welcome

We kindly serve you, find your identity in Indonesia

history

Indonesia has strong historical roots, has a priceless masterpiece

Floating market

The uniqueness is a part of Indonesian life

metropolitan

Indonesia has a magnificent way of life

culinary

have a high culinary taste since antiquity

pray

the source of all sources of life is god

Romantic

the source of all sources of life is god

Tampilkan postingan dengan label wisata alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata alam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Maret 2013

Misteri Penampakan dan Jeritan di Lawang Sewu

Misteri Lawang Sewu
Misteri Lawang Sewu

Pernah mendengar tentang Lawang sewu sob? Gedung ini memiliki sejarah yang panjang selain juga cerita mistisnya. Lawang Sewu dulunya merupakan sebuah gedung di Jawa tengah,  Tepatnya kota Semarang. Merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Banyak diberitakan mengenai misteri penampakan dan jeritan di Lawang Sewu di waktu malam. Saat ini  gedung ini merupakan tempat wisata sejarah meskipun banyak juga orang iseng yang menjadikannya ajang uji nyali. Gedung Lawang Sewu ini terkenal menyeramkan dan angker.

Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907, Lawang Sewu berada di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein. Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak.
Meski kenyataannya pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini juga memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).
Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT. Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.
Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
Namun ketenaran Lawang Sewu bukan berasal dari cerita sejarahnya, melainkan mistis yang kuat yang tersimpan rapat di gedung yang memiliki banyak pintu ini. Bahkan kini Lawang Sewu seolah menjadi icon mistis di Jawa Tengah.
Lawang Sewu dipercaya banyak ditinggali hantu-hantu Belanda dan Jepang. Hantu-hantu yang sering dibicarakan warga sekitar adalah arwah para tentara Belanda dan Jepang yang masing-masing punya daerah kekuasaan sendiri-sendiri.
Di pintu depan paling barat bangunan tua itu dipercaya dikuasai oleh sosok hantu tentara Belanda. Setiap kali muncul lelembut yang penampakannya selalu mengenakan pakaian seragam serdadu lengkap dengan senapan laras panjang.
Lain lagi di salah satu ruang paling depan yang ditengarai dulunya menjadi pos penjagaan tentara Nipon, di sekitar tempat itu dikuasai oleh sosok lelembut yang berwujud serdadu Jepang. Khusus makhluk gaib yang satu ini, mereka terlihat bengis dan kejam. Kumisnya panjang melintang dengan ke mana-mana selalu membawa sebilah samurai panjang.
Selain hantu tentara Belanda dan Jepang, hantu perempuan tidak kalah seram di tempat tersebut. Dari dalam gedung tersebut sering kali terdengar jeritan-jeritan suara perempuan yang diperkirakan jeritan itu berasal dari jerit noni-noni Belanda. Bahkan, setiap muncul jeritan pasti disusul suara derap sepatu laras tentara Belanda dan Jepang. Sepertinya arwah mereka kompak, namun suara jeritan itu diperkirakan jeritan noni Belanda yang ketakutan ketika melihat aksi pembantaian Jepang terhadap tentara Belanda.
Konon, banyak tentara Belanda yang tewas disembelih tentara Jepang. Sehingga suara jeritan itu kadang disusul jeritan tentara Belanda yang kesakitan.
Namun, dari sekian banyaknya makhluk halus yang menjaga gedung Lawang Sewu tersebut, menurut beberapa paranormal asal Semarang tidak akan mengganggu masyarakat apabila nekat masuk ke dalam gedung.

Sejarah guung krakatau

Pada tanggal 27 agustus 1883 pada pukul 10.20 WIB satu seperempat abad yang lalu, sebuah gunung berapi meletus di Selat Sunda. Gunung Krakatau (orang barat menyebutnya Krakatoa) yang saat itu menjuntai di Pulau Krakatau memuntahkan amarahnya dengan kekuatan setara 200 megaton TNT. Asal tahu saja, jumlah TNT sebesar itu setara dengan 13,000 kali Little Boy, bom atom yang meremukkan Hiroshima di Jepang pada 1945. Benar-benar dahsyat.
Kedahsyatan ledakkan Krakatau bisa dilihat juga dari jumlah korban tewas. Sebanyak 36,417 orang meregang nyawa karena amuknya, 165 permukiman hilang dari permukaan bumi, dan 132 desa luluh lantak porak poranda. Letusan Krakatau juga memicu terjadinya tsunami yang terasa hingga Hawaii dan pantai barat Amerika, sebuah jarak yang bagi banyak orang belum pernah terbayangkan sebelumnya karena saking jauhnya. Kapal yang sedang berada di Afrika Selatan konon sampai terhempas gara-gara tsunami yang bersumber dari ujung Pulau Jawa ini. 
Ada lagi rekor yang dibuat Krakatau: suara ledakkan terdengar sampai Perth di sebelah Timur yang berjarak 3,110 kilometer dan di sisi barat penduduk di Rodrigues, dekat Mauritius yang berjarak 5,000 kilometer bisa mendengar “desahan” Krakatau. Ini berarti sekitar seperdelapan penduduk planet bumi bisa mendengar Krakatau sedang mengamuk dahsyat.
Usai ledakan, planet ini sempat gelap tertutup abu vulaknis yang menutupi atmosfer. Sinar mentari tidak mampu menembus tebalnya debu yang beterbangan. Asal tahu saja, Krakatau memuntahkan 25 kilometer kubik batu dan abu ke udara. Wah, seperti mau kiamat dong…

Foto yang menghiasi disisi kiri ini ini adalah dari Illustrated London News yang terbit pada 8 September 1883 (Anda bisa membeli replika halaman depan koran itu seharga 184 dollar di Amazon). Sementara itu pada 1927 sebuah gunung “menjebul” lahir dari bekas lokasi Gunung Krakatau. Dia dinamakan Anak Krakatau.

126 Tahun Terkubur, Dokumen Meletusnya Krakatau 1883 Ditemukan
Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Sapta Nirwandar, menyambut baik diterbitkannya dokumen klasik tentang dahsyatnya letusan Krakatau tahun 1883. Sebab, dokumen yang telah 126 tahun terkubur dalam lautan naskah kuno dan ditemukan terpisah di enam negara itu, sekarang sudah bisa dibaca bangsa Indonesia.
"Dokumen klasik bernama Syair Lampung Karam ini adalah karangan Muhammad Saleh, yang mengaku mengalami dan menyaksikan sendiri letusan Krakatau yang amat dahsyat di tahun 1883. Saking dahsyatnya, bunyi letusannya dapat didengar sejauh Manila, Cololbo, Papua Nugini, dan pedalaman Australia," kata Sapta Nirwandar di Jakarta, Rabu (30/12/2009).
Syair Lampung Karam tentang dahsyatnya letusan Krakatau hasil penelitian Suryadi, --peneliti dan dosen di Leiden University ini, menurut Sapta, teks syairnya bisa direvitalisasi untuk berbagai kepentingan, misalnya di bidang akademik, budaya, dan pariwisata. Salah satunya adalah kemungkinan untuk mengemaskinikan teks syair tersebut dalam rangka agenda tahunan Festival Krakatau.

Syair yang aslinya ditulis dalam aksara Arab-Melayu (Jawi) ini juga dapat direvisi dan diperkenalkan untuk memperkaya dimensi kesejarahan dan penggalian khasanah budaya dan sastra daerah Lampung khususnya dan Indonesia umumnya.
"Dengan terbitnya dokumen langka hasil catatan pribumi satu-satunya tentang letusan Krakatau 1883 itu, bangsa Indonesia mendapat kesempatan untuk mengetahui sebuah dokumen yang ditulis oleh para pendahulu kita," papar Sapta.
Naskah klasik yang merupakan kekhayaan khasanah budaya Indonesia ini menarik dikaji karena di dalamnya mengandung banyak informasi penting menyangkut bahasa, budaya, dan sejarah Indonesia.
Sumber : jalansutera.com & latief/kompas.com

menguak misteri segitiga bogor dan kerajaan pajajaran



Mungkin sobat-sobat pernah mendengar tentang misteri segitiga bogor yang katanya bernuansa mistis. Banyak kisah keanehan dan keangkeran yang meliputi wilayah segitiga Bogor ini. Ternyata hubungan misteri segitiga Bogor dan Kerajaan Pajajaran sangatlah erat. Kisah dan misteri Gunung Salak dan Gunung Halimun juga ada hubungannya dengan laskar kerajaan Pajajaran. Bagi anda yang tertarik untuk menyimak perihal Kisah dan Misteri Segitiga Bogor yang menjadi wacana umum ini bisa membacanya di artikel berikut ini.

Di wilayah sekitar Halimun Bogor dan sekitarnya ada benteng-benteng milik Prabu Siliwangi yang tak kelihatan, pusat kerajaan ada di Gunung Salak, sebenarnya ini sudah menjadi rahasia umum. Catatan sejarah soal Kerajaan Siliwangi pasca kehancurannya setelah diserang Kesultanan Banten pada tahun 1620-an, adalah catatatan pertama kali dari Scipio yang melakukan ekspedisi sekitar tahun 1687 mencatat ada ratusan macan gembong atau harimau bertempat tinggal di sebuah bangunan dekat Kebun Raya Bogor sekarang, selain itu ditemukan rawa yang berisi badak di sekitar Sawangan, dinamakan Rawa Badak dimana di ujung Rawa Badak ditemukan juga situs parit dan bekas tembok keraton yang dijadikan sarang macan, sekarang sarang macan ini dikenal pertigaan beringin di Sawangan. Selain catatan-catatan arkeologi, ada catatan mistis tentang segitiga Bogor.
Lukisan Prabu Siliwangi
Ada tiga gunung yang dianggap angker di masa Mataram Sultan Agung, pertama Gunung Merapi, Kedua Gunung Slamet dan Ketiga Gunung Halimun, diantara ketiganya Gunung Halimun-lah yang dianggap paling angker karena memiliki misteri luar biasa. Sampai saat ini banyak peristiwa jatuhnya pesawat di sekitar segitiga Gunung Halimun-Gunung Salak-Gunung Gede.
Daya energi ketiga gunung itu ada di Istana Cipanas, sekitar gedung yang dibangun Bung Karno namanya Gedung Bentol, tempat dimana Bung Karno selalu bermeditasi sejak dia menempati Istana Merdeka di tahun 1949. Di belakang Gedung Bentol ada sumber air panas, yang merupakan energi dari Siliwangi.
Dilamarnya Puteri Dyah Pitaloka yang kecantikannya serupa bidadari dan mewariskan kecantikan yang bisa dilihat pada gadis-gadis Bandung, Cianjur dan Sumedang sekarang ini adalah rahasia ‘Wahyu Nusantara’ yang dimiliki kerajaan Pajajaran, dimana Gadjah Mada ingin memilikinya “Siapa yang menguasai Wahyu Nusantara dia akan menguasai Indonesia’, penguasaan wahyu nusantara ini menimbulkan konflik antara Hayam Wuruk yang berpendapat bahwa wahyu itu bisa diambil dengan cara Ken Arok yaitu menikahi puteri sang Raja, di satu sisi wahyu bisa diambil dengan cara menaklukkan Pajajaran dan membangun kerajaan Majapahit Barat di Pakuan.
Tanpa disengaja menurut kepercayaan banyak orang Bung Karno mengawini puteri Bandung yaitu : Inggit Garnasih yang ditengarai masih keturunan Raja Siliwangi dimana wahyu Nusantara bersemayam di tubuh Inggit Garnasih, dan Bung Karno keturunan langsung Brawijaya V mengobarkan semangat Nusantara bermula di Bandung pada rapat politik Radicale Concentratie di Bandung tahun 1922. Bandung adalah kota terakhir dimana Prabu Linggabuana menyucikan diri di danau Bandung sebelum berangkat ke Majapahit dan kelak beristirahat di Pesanggrahan Bubat dimana kemudian datang Gadjah Mada dan terjadilah insiden pembunuhan dan pembantaian besar-besaran rombongan Pajajaran.
Sisa-sisa dari Laskar Perang Bubat melarikan diri ke Gunung Salak, sementara sisa-sisa dari punggawa Siliwangi yang diserang Banten lari ke Gunung Halimun. Tempat dimana seringnya pesawat menghilang, ini mirip dengan segitiga Bermuda dan segitiga formosa.
Gunung Halimun dan Gunung salak ini mirip Gunung Lawu yang disucikan Majapahit, tak boleh ada yang melintasi diatasnya, burungpun bisa mati bila melewati satu titik tanah yang sakral.
Begitulah kira-kira kisah dan misteri Segitiga Bogor yang dipercayai oleh banyak kalangan masyarakat sampai saat ini. 
sumber : http://era90.blogspot.com/2012/05/hubungan-misteri-segitiga-bogor-dan.html

siapa dan bagaimana pertama kali candi borobudur di temukan

Candi Borobudur pertama kali ditemukan
Candi Borobudur pertama kali ditemukan
- Candi Borobudur telah menjadi satu dari Tujuh keajaiban dunia. Mungkin banyak sobat pembaca yang mengetahui sejarah masa lalu candi Borobudur ini dari literature yang ada dan bahkan sudah sering mengunjunginya. Tapi apakah sobat tahu mengenai sejarah ditemukannya Candi Borobudur pertama kali?
Sebuah bangunan misterius di masa lalu yang pernah hilang ditelan amukan letusan Gunung Merapi ini kembali ditemukan Tahun 1814 Sang penjajah Belanda.
Untuk lengkapnya silahkan menyimak artikel sejarah ditemukannya Candi Borobudur di bawah ini.

Candi Borobudur di masa lalu
Candi Borobudur di masa lalu
Candi borobudur Terkubur Lahar Merapi
Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa ahli mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikelilingi rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi.
Sejarah ditemukannya Candi Borobudur
Sejarah ditemukannya Candi Borobudur
Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan 'Amawa' berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi. Desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo terdapat aktivitas warga membuat kerajinan. Selain itu, puncak watu Kendil merupakan tempat ideal untuk memandang panorama Borobudur dari atas. Gempa 27 Mei 2006 lalu tidak berdampak sama sekali pada Borobudur sehingga bangunan candi tersebut masih dapat dikunjungi.
Reruntuhan Candi Borobudur sebelum di pugar
Reruntuhan Candi Borobudur sebelum di pugar
Sejarah ditemukannya candi borobudur
Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur.
Biara di Budur istilah awal Candi Borobudur
Biara di Budur istilah awal Candi Borobudur
Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar.
Sejarah pertama kali ditemukannya Candi Borobudur
Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu.
Sejarah ditemukannya Candi Borobudur yang legendaris
Candi Borobudur warisan budaya bangsa
Setelah dibersihkan se lama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.
Sumber: www.indonesianforums.com

Senin, 04 Maret 2013

3 tempat terbaik di indonesia Raja Ampat, Bangka dan Alor

Sebagai negeri di garis khatulistiwa, nama Indonesia sudah masyhur di seluruh penjuru dunia. Negeri kepulauan dengan gugusan pantai indah memang kadung menjadi sebuah destinasi
tropis yang tidak pernah habis pesonanya. Nah, TravelXpose kembali mengajak Anda melongok kembali warisan alam menakjubkan yang
dimiliki oleh Raja Ampat, Belitung, hingga Alor.






RAJA AMPAT
Main Air di Taman Laut Terbesar

Teks & foto: Arnov Setyanto

Nama Raja Ampat seketika meroket.
Objek wisata bahari itu nyatanya
sudah terkenal di seantero Indonesia,
bahkan dunia. Banyak orang berjanji
untuk datang ke sana demi sebuah
“pencapaian hidup”. Belum lengkap
rasanya menjadi seorang traveller bila
tak menginjak Indonesia bagian timur
itu.

Lokasinya termasuk salah satu yang
menjadi favorit para diver dari seluruh
dunia untuk menaklukkan keindahan
bawah lautnya. Selain itu, gugusan
kepulauan yang melingkari Raja
Ampat juga menawarkan panorama
alam yang sangat indah.

Raja Ampat merupakan kabupaten baru yang memisahkan diri dari Kabupaten Sorong. Berdiri sejak
2003, Raja Ampat memiliki 610 pulau yang tersebar di area seluas 46.296 km². Dari sekian banyak pulau
yang ada, hanya 35 pulau yang berpenghuni; sebagian lagi bahkan belum memiliki nama. Namun, yang
paling dikenal di antara pulau-pulau itu adalah empat pulau yang paling besar, yaitu Pulau Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo.

Catatan sejarah mencatat pada abad ke-16, keempat pulau terbesar tersebut memiliki kerajaan masingmasing. Karena itulah muncul istilah four kings atau Raja Ampat digunakan sebagai nama lokasi itu.
Menurut survey The Nature Conservancy, Kepulauan Raja Ampat terletak di pusat karang segitiga dunia; tempat 75 persen spesies karang dunia menetap. Selain itu, terdapat juga 1000 lebih jenis ikan sehingga ada yang mengatakan bahwa Raja Ampat adalah ibukota ikan dunia.
Hanya dengan menyisakan 6.000 km² untuk daratan, tidak bisa disanggah bahwa Kepulauan Raja Ampat adalah taman laut terbesar di Indonesia. Kegiatan utama yang bisa dilakukan adalah snorkeling dan diving.
Bahkan, Raja Ampat dinobatkan sebagai satu dari sepuluh lokasi diving terbaik di dunia. Raja Ampat menawarkan panorama alam seperti hamparan laut biru yang berpadu dengan keindahan langit dan taburan pasir putih yang memancarkan kilaunya bagai mutiara. Selain itu, masih ada gugusan pulau yang mempesona serta flora dan fauna yang unik, seperti cenderawasih merah, cenderawasih wilson, maleo waigeo, beraneka burung kakatua dan nuri, kuskus waigeo, serta beragam jenis bunga anggrek. Semua dapat Anda temukan di Raja Ampat.
Bagi Anda yang ingin menghabiskan waktu di Raja Ampat, tersedia penerbangan dari Jakarta atau Bali menuju Sorong dengan transit terlebih dahulu di Makassar atau Manado. Sangat disarankan Anda menggunakan jasa agen perjalanan selama di Raja Ampat untuk mempermudah wisata Anda. Juga sangat dianjurkan untuk datang dengan rombongan 15 sampai 20 orang agar bisa menekan biaya yang memang sangat mahal jika berkunjung ke Raja Ampat.
Setelah tiba di Sorong, sudah ada kapal yang akan membawa Anda menuju Waisai di Pulau Waigeo yang merupakan ibukota Kabupaten Raja Ampat. Perjalanan dari Sorong menuju Waisai menempuh jarak tiga sampai empat jam. Para penduduk Raja Ampat terkenal akan keramahannya. Ketika tiba di salah satu dermaga pulau, Anda akan disambut dengan tarian tradisional sebagai bentuk penghargaan warga Raja Ampat terhadap tamu yang datang. Seperti yang telah dikatakan, banyak sekali titik diving yang ada di Raja Ampat. Banyak resort juga telah tersedia di pulau-pulau kecil selain empat pulau utama. Resortresort itu bermunculan seiring
dengan banyaknya diver yang ingin menikmati keindahan bawah laut Raja Ampat. Kini, tak perlu lagi repot membawa berbagai perlengkapan menyelam karena sudah tersedia penyewaan alat-alat menyelam yang lengkap. Namun, bagi Anda yang datang hanya untuk memanjakan mata, sangat diwajibkan untuk menyambangi Wayag.
Wayag adalah nama daerah di distrik Waigeo Barat, Raja Ampat yang menawarkan pemandangan fantastis puncak pulau-pulau karst (karang) yang muncul di atas permukaan laut. Setidaknya, ada puluhan pulau karst yang berbentuk seperti cendawan berpadu dengan air laut yang jernih. Salah satu pulau yang wajib didatangi saat di Wayag adalah Pulau Karang.
Dari puncak Pulau Karang, Anda bisa menyaksikan keindahan Wayag seutuhnya. Butuh waktu 30 menit
untuk sampai di puncak Pulau Karang, tetapi segala jerih dan upaya akan terbayar lunas, bahkan lebih. Butuh waktu enam sampai delapan jam menggunakan long boat dari Waisai menuju Wayag. Namun, di sepanjang jalan, Anda bisa menikmati panorama biota laut, seperti karang merah yang terlihat jelas dari permukaan laut.
Biaya perjalanannya yang besar akan terbayar tuntas ketika sudah menginjakkan kaki di Raja Ampat. Bagi Anda yang suka berpetualang yang sedikit menantang, Raja Ampat layak untuk jelajahi. Halong Bay di Vietnam takkan bisa menandingi keindahan Raja Ampat.
BANGKA BELITUNG
Pesona Gugusan Pantai Batu Granit

Teks & foto: Arnov Setyanto
Jika Raja Ampat dirasa terlalu menekan adrenalin, melancong ke Kepulauan Bangka dan Belitung mungkin dapat menjadi alternatif. Karateristik air laut hampir sama
dengan Raja Ampat, tetapi memiliki medan dan rute yang lebih bersahabat.

Pulau Bangka Belitung adalah provinsi yang namanya diambil dari dua pulau besar di semenanjung selatan Sumatra, yaitu Bangka dan Belitung. Kedua pulau itu sejak
berabad lampau telah lama dikenal sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia dan memiliki pesona alam pantai yang  mengagumkan.
Selain dua pulau besar tersebut, terdapat juga pulau-pulau kecil, seperti Pulau Lepar, Pulau Pongok, Pulau Mendanau, dan Pulau Selat Nasik. Terdapat setidaknya 470 pulau yang memiliki nama, tetapi hanya 50 saja yang berpenghuni.

Jika Anda berencana mengunjungi Bangka Belitung, ada beberapa pulau yang layak Anda kunjungi, di antaranya adalah Pulau
Burung Mandi yang berada di Belitung Timur. Pulau itu memiliki pemandangan yang indah dengan perahu nelayan yang menjajar di sisi pantai sebagai ciri khasnya. Panorama semakin indah jika dilihat pasir yang cokelat berpadu dengan birunya air laut yang tenang serta gagahnya Gunung Burung Mandi yang indah dari kejauhan. Selain Pulau Burung Mandi, Anda juga wajib mendatangi Pulau Lengkuas.
Pulau itu tidak memiliki penghuni, tetapi yang menjadikan pulau ini layak untuk dikunjungi adalah mercusuar peninggalan Belanda yang masih beroperasi hingga saat ini. Untuk Anda para fotografer, Pulau Lengkuas memiliki beberapa spot foto yang menarik. Anda bisa menaiki mercusuar dan mengabadikan pantai yang ada di bawahnya. Di pulau itu juga, Anda dapat beraktivitas snorkeling serta diving. Pulau Lengkuas sendiri berada di Pantai Tanjung Kelayang Desa Keciput, Belitung.
Tidak bisa dipungkiri, pamor Pulau Bangka Belitung naik setelah film fenomenal Laskar Pelangi ditayangkan. Film itu mengambil lokasi di pantai-pantai Bangka Belitung dengan batu-batu besar
sebagai ciri khasnya. Jika Anda ingin mendatangi pantai dengan batubatu besar itu, sangat dianjurkan
untuk mendatangi Pantai Tanjung
Tinggi. Berjarak hanya dua kilometer dari Pantai Tanjung Kelayang, pantai itu memiliki batu-batu besar yang menjadi ikon pantai Bangka Belitung. Tebaran batu granit berpadu dengan pasir putih yang halus tentu akan membuat siapa saja terlena. Di pantai itu juga, terdapat resort yang diklaim sebagai resort terbesar di Kepulauan Bangka Belitung.
Akses menuju Bangka Belitung terbilang mudah. Sudah banyak maskapai penerbangan yang membuka rute dari Jakarta menuju Bangka Belitung maupun sebaliknya. Terdapat dua bandara di Bangka Belitung, yaitu Bandar Udara Depati Amir yang terdapat di Pangkal Pinang, Pulau Bangka. Kota Pangkal Pinang merupakan ibukota Provinsi Bangka Belitung. Kemudian, bandara yang kedua adalah Bandar Udara H. A. S. Hanandjoeddin yang terdapat di Tanjung Pandan, Pulau Belitung.
Jika Anda berencana berwisata bahari di Bangka Belitung, sangat disarankan lebih banyak menghabiskan waktu di Pulau Belitung karena objek wisatanya yang lebih banyak dibanding Pulau Bangka. Gunakanlah jasa agen perjalanan yang banyak menawarkan paket wisata di Bangka Belitung karena informasi akan transportasi dan akomodasi sangat sulit didapatkan jika berpergian sendiri. Ratarata jasa agen wisata di Bangka Belitung berkisar 1 hingga 1,5 juta rupiah. Dengan harga yang relatif murah, Anda sudah bisa menikmati keindahan Bangka Belitung.

Tempat-tempat yang akan didatangi untuk wisata bahari seperti snorkeling dan diving berbeda dengan jalur jika Anda ingin hunting foto. Setelah Anda melakukan pemesanan kepada pihak agen wisata, Anda akan ditanyakan wisata apa yang diinginkan, bercengkrama dengan alam atau memotret panorama Bangka Belitung yang indah.
ALOR
Bahari Bercampur Budaya

Teks: Tim Ekskursi Arsitektur Universitas Indonesia, Fadly Molana
Foto: Aris Winahyu Budi Raharjo & Tim Ekskursi Arsitektur Universitas Indonesia
Tidak banyak yang mengetahui bahwa selain adat istiadat dan kebudayaannya yang menarik, Nusa Tenggara Timur juga memiliki potensi wisata yang lain. Alor adalah salah satu tujuan utama jika berkunjung ke Nusa Tenggara Timur. Alor merupakan kabupaten dengan luas daratannya mencakup 2.864,64 km² dan luas perairannya mencapai 10.773,62 Km². Alor memiliki 20 pulau; sembilan di antaranya berpenghuni, yaitu Alor, Pantar, Pura, Tereweng, Ternate, Kepa, Buaya, Kangge, dan Kura.

Untuk para diver, Alor merupakan
surga bagi mereka. Setidaknya,
terdapat 26 titik selam yang wajib
dicoba. Titik-titik selam itu adalah
Half Moon Bay, Peter’s Prize,
Crocodile Rook, Cave Point, The
Edge, Coral Clitts, Baeylon, The Arch, Fallt Line, The Pacth, Nite Delht, Kal’s Dream, The Ball, Trip Top, The Mlai Hall, No Man’s Land, The Chatedral, School’s Ut, dan Shark Close. Titik selam Shark Close adalah lokasi yang paling  menantang karena terdapat ikan hiu. Keindahan bawah laut di Alor tak kalah memukau dengan keindahan bawah laut di Bunaken, Derawan, bahkan Raja Ampat.

Di Pulau Alor, terdapat dua pantai yang kerap menjadi tujuan wisatawan, yaitu Pantai Mali dan Pantai Maimol. Pantai Mali berada Pulau Alor, terdapat dua pantai yang kerap menjadi tujuan wisatawan, yaitu Pantai Mali dan Pantai Maimol. Pantai Mali berada di Kabola Kecamatan Teluk Mutiara dengan jarak 10 kilometer dari kota Kalabahi yang merupakan ibukota Kabupaten Alor.

Pantai Mali menawarkan panorama pantai yang masih asri dengan pasir putih dan air laut yang tenang. Tidak jauh dari Pantai Mali, terdapat Pulau Sika yang menyimpan makam keramat. Walaupun demikian,
kesan angker tidak terasa, justru keberadaan Pulau Sika menambah suasana menjadi asri. Akses menuju Pantai Mali dari Kalabahi sangatlah mudah; sudah terdapat transportasi umum yang dapat mengantarkan Anda. Menenangkan diri di gazebo sambil memakan jagung rebus bisa Anda nikmati di pantai itu yang cocok untuk mencari suasana tenang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Satu lagi pantai yang menjadi andalan di Alor selain Pantai Mali, yaitu Pantai Maimol. Berjarak hanya 8 kilometer dari Kalabahi,
Pantai Maimol adalah rumah bagi para nelayan Alor. Di sana, Anda bisa menyaksikan kehidupan asli penduduk Alor. Pantai Maimol
sangat bersih dengan ombak yang tidak begitu besar. Anda bisa bermain air di bibir pantai itu. Keramahan penduduk lokal akan
membuat siapa saja betah berlamalama.

Di Alor, terdapat sebuah desa yang terkenal dengan tari tradisionalnya. Seni tari itu bernama lego-lego. Tarian itu berasal dari Kampung Takpala, Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara. Dari Kalabahi, kampung itu dapat diakses menggunakan mobil dengan waktu tempuh 20 menit. Perdesaan itu menyuguhkan visualisasi keadaan
alam laut dan pulau sekitar.
Jika ada wisatawan yang mengunjung Kampung Takpala, mereka akan disambut dengan tarian lego-lego. Tarian itu merupakan tarian yang melambangkan kebersamaan masyarakat Takpala. Tarian itu
dilakukan oleh sekelompok pria dan wanita terususun secara berselingan yang bergerak membentuk pola spiral mengelilingi mezbah (sumur).
Satu penari dengan penari lain akan berangkulan dan bersamasama melangkah dengan ritme tertentu yang diiringi oleh suara gelang yang dipakai di pergelangan kaki. Biasanya, para penari juga mengenakan pakaian adat dilengkapi dengan berbagai atribut yang berbeda untuk pria dan wanita. Pakaian adat untuk wanita disebut selimut atau noang dan sarung atau keng untuk pria, sementara pelengkapnya berupa bulu di kepala yang disebut kiti, tas anyaman, parang, dan panah. Kini, lego–lego digunakan sebagai sarana untuk mempromosikan budaya setempat dan menjadi salah satu ritual yang dilakukan untuk menghidupi penduduk secara ekonomi.

Penduduk Takpala termasuk rumpun suku Abui yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan  beberapa sebagai nelayan. Penduduk Takpala rata-rata memiliki dua jenis tempat tinggal, rumah adat yang disebut rumah gudang dan rumah yang lebih modern pada bagian kaki bukit. Estimasi perjalanan melalui jalur darat dan laut dari Jakarta menuju Surabaya, Bali, Mataram, Bima, Labuan Bajo, Labuan Larantuka, Lewoleba, sampai Kalabahi memakan waktu sekitar sembilan hari.
Sementara itu, jalur udara dapat diakses melalui rute penerbangan Jakarta menuju Kupang dilanjutkan
dengan menggunakan pesawat perintis menuju Kalabahi yang hanya menempuh waktu 30 menit

http://www.travelxpose.com/index.php?option=com_content&view=article&id=178%3Amenjelajahi-3-terbaik-di-indonesia&catid=45%3Aexplore-domestik&Itemid=84&lang=en

pesona 3 Pulau Nusa yang memiliki magnet nusa Lembongan, Nusa penida dan Ceningan

Berada terpisah di laut selatan Pulau Dewata, bukan berarti kehilangan pesona. Meski berukuran kecil,
Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, dan Nusa Penida memiliki magnet turistik yang tak kalah menarik. Ombak yang memikat para peselancar, bawah laut yang mengundang penyelam, karang terjal yang menggoda para petualang. Siapkah Anda berlayar kesana dan melupakan Bali yang hiruk pikuk? Alunan melodi berbahasa Portugis menyambut tibanya saya di Pantai Sanur, tepatnya di ujung selatan Jalan Hang Tua. Saya langsung terkenang film Eat, Pray, Love yang dimainkan Julia Roberts karena musik yang saya dengar sekarang dipakai sebagai soundrack film tersebut. Saya merasa berada di tempat yang pas dan di  waktu yang tepat. Kebetulan film itu bersetting di Bali, dan kebetulan pula saya dalam kondisi siap untuk mengarungi lautan, persis seperti lirik lagunya!

Ponsel saya berdering. Pesan singkat dari Mathil, rekan sekantor asal Perancis. Mathil mengabarkan bahwa ia dan tiga kawan telah tiba di Pantai Sanur dan mereka telah pula membeli tiket kapal motor, termasuk untukku. Langsung saja saya meneguk habis sisa kopi dalam cangkir yang terhidang di meja lantas bergegas memanggul ransel menemui mereka. Langit biru cerah, udara hangat bercampur sejuk angin pantai. Saatnya mengakrabi ombak dan air asin…..
Bali sebagaimana telah dikenal orang, betul-betul surga pelesir.  Begitu banyak pilihan bersenang-senang ditawarkan oleh propinsi berjuluk Island of Gods ini. Setiap kali menginjakkan kaki kesini, ada saja hal baru untuk dieksplor. Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, dan Nusa Penida adalah bagian dari Bali dan mereka termasuk jarang dijamah. Wisata bahari di ketiga pulau ini memperkokoh Bali sebagai destinasi serba ada.
Rencana menyambangi tiga nusa kecil di selatan Bali itu sebetulnya sudah lama saya pendam. Hanya saja selalu ada halangan untuk merealisasikannya. Beruntung saya dipertemukan dengan rekan-rekan kantor yang punya hobby sama. Kami pun merencanakan perjalanan ke Nusa Lembongan, Ceningan, dan Penida di akhir pekan ini.
Sanur, tepatnya di Jalan Hang Tua menjadi titik keberangkatan yang popular menujuh ke tiga nusa. Ada dua pilihan transportasi laut, dengan kapal motor biasa atau dengan speed boat. Untuk domestik harga berkisar 60-100 ribu per orang sekali jalan, tergantung seberapa mahir kita menawar.  Kami memakai kapal motor biasa yang bisa ditumpangi hampir 20 orang. Durasi berlayar sekitar 2 jam, disebabkan kondisi laut selatan yang lumrah lebih bergelombang dan kuat arusnya. Kami memilih tidur-tiduran di atas atap kapal, bergurau sambil melempar pandang ke lautan luas..
SURGA DI UJUNG KUKU
Kapal merapat di pos penyeberangan Jungut Batu. Satu per satu penumpang melompat keluar. Seturut rencana, kami akan menyewah sepeda motor. Dengan moda roda dua ini kami akan mengelilingi pulau. Di pos kami langsung berkenalan dengan Dodi (kontak 081337419282) pria lokal yang empunya penyewaan sepeda motor. Awalnya Dodi mematok harga Rp.70.000 untuk satu sepeda motor per hari, tapi akhirnya luluh juga hatinya setelah kami tawar Rp.50.000 per hari. Jadilah tiga sepeda motor kami sewa.
Misi selanjutnya adalah mencari penginapan. Agaknya dengan sepeda motor urusan ini jadi lebih mudah. Saya sejujurnya kaget dengan situasi di Nusa Lembongan. Kira-kira enam tahun silam saya pernah kesini. Waktu itu pantai di sekitar pos penyeberangan masih semata pasir, belom ditemboki. Rumah-rumah penduduk juga masih sangat sederhana. Dan satu hal yang terasa hilang adalah hamparan rumput laut yang dulu memenuhi pantai. Ya, Nusa Lembongan dulu lebih masyur sebagai pulau penghasil rumput laut. Ah, kondisi kini cepat sekali berubah.
Penginapan di Nusa Lembongan pun tak kalah banyak bermunculan. Dari yang level losmen hingga resort berbintang. Terutama di Jungut Batu. Letaknya berdekatan satu sama lain, membuat kami sedikit kewalahan memilih. Toh, akhirnya kami sepakat untuk bermalan di penginapan yang menghadap pantai, dan terpilihlah Puri Nusa Bungallow. Kami menempati kamar dua lantai dengan lima tempat tidur, harganya Rp.250.000 semalam, sehingga masing-masing hanya mengeluarkan Rp.50.000 dari dompet. Hmmm..lumayan ekonomis.
Tuntas masalah penginapan, kami langsung bergegas menujuh Manggrove Point. Berlokasi di timur laut pulau, Mangrove Point disebut sebagai tempat dengan terumbu karang yang cukup subur dan sangat baik untuk bersnorkeling. Jaraknya hanya dua kilometer dari hotel. Baru sekitar 500 meter keluar dari hotel, saya mendapatkan kembali wajah asli Nusa Lembongan yang ‘hilang,’ Rumah-rumah berdinding gedek, tanah kering, jalanan yang berdebuh serta berbatu. Bukannya mengeluh, kami malah bersorak-sorai melewati rute itu.
Paradise Warung adalah restoran yang berada paling ujung di Mangrove Point sekaligus titik paling tepat untuk bersnorkeling. Kami disambut sang pemilik restoran, Ibu Made (081338380419). Berhubung laut sedang pasang surut, kami memutuskan untuk bersantap siang terlebih dahulu. Selain menu-menu biasa, Indonesia-Western, Ibu Made punya satu sajian spesial yang ia namakan Chicken Lembongan, yakni daging ayam bumbu santan dibungkus daun pisang. Menyantapnya paling pas saat masih hangat, ditetesi perasan jeruk, mmm…nikmat nian!
Ibu Made meminjamkan peralatan snorkeling gratis (fins, masks, snorkels) sebagai kompensasi bagi siapapun yang bersantap di restorannya. Dengan peralatan itu, kami bersukacita menceburkan diri ke laut.
Ternyata terumbu karang di Mangrove Point bersebaran tepat di bibir pantai. Begitu membenamkan kepala ke dalam laut, saya serasa menemukan surga di ujung kuku. Kepadatan koralnya baik ditambah populasi ikan yang cukup melimpah. Nyaris empat jam kami bersnorkeling. Agak ke tengah, kami menemukan bebatuan besar yang menjadi rumah ratusan ikan, juga celah-celah sempit yang misterius. Sayang sekali, saya tidak memiliki underwater camera, keidahan bahwa laut itupun hanya terekam dalam ingatan.
Begitu merasa tenaga sudah agak terkuras, kami sepakat kembali ke darat. Saat ngos-ngosan berenang, tiba-tiba meluncurlah seorang nelayan di atas sampannya menghadang kami, lalu dengan senyul simpul bertanya, “do you want transport?” Duh, bapak ini!!
ADUH NYALI DI NUSA CENINGAN
Setelah beristirahat sejenak di restoran Warung Pelangi, kami menderukan lagi sepeda motor. Niat kami adalah menujuh Nusa Ceningan. Dalam bahasa Bali, Nusa Ceningan berarti pulau kecil, mengikuti ukuran pulau yang memang tak seberapa besar.
Hanya tiga puluh menit ke arah selatan, kami melewati jembatan sempit yang hanya bisa dilalui satu sepeda motor. Jembatan ini berwarna kuning, dan tampak indah oleh bentuknya yang jangkung. Permukaan jembatan hanya dilapisi bilah-bilah kayu, serasa amat menyatu dengan alam, membela selat Toyoh Pake yang memisahkan Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan
Kami lantas memilih berbelok ke barat, ke sebuah lokasi yang dinamakan ‘Jumping Point.’ Dari namanya sudah jelas menggambarkan seperti apa tempatnya nanti. Tepian ketiga pulau ini memang didominasi oleh tebing curam, mirip kawasan Uluwatu. Kami sampai di Swallow Houses dimana terdapat rumah-rumah yang dibangun di bibir tebing. Kemudian melangkah ke Jumping Point tersebut. Disini kerapkali orang-orang -baik lokal maupun wisatawan asing- datang  untuk menguji nyali, melompat dari atas tebing ke bawah laut biru yang ombaknya dari jauh sudah bikin ngeri. Satu-satunya cara untuk kembali ke atas adalah memanjat tebing.
Puas di Jumping Point, kami bergegas kembali ke Nusa Lembongan untuk sebuah pengalaman lain yang tak kalah seruhnya!
SENSASI SENJA DEVIL’S TEAR
Hampir semua bagian barat dari Nusa Ceningan maupun Nusa Lembongan menjanjikan pemandangan matahari tenggelam yang luar biasa. Namun ada satu lokasi yang paling saya rekomendasikan yakni di Devil’s Tear.
Menggapainya dari Nusa Ceningan, kembali kami menyeberangi jembatan kuning lantas berbelok ke kiri. Yang perluh diperhatikan adalah menghitung timing dengan seksama, agar datang ke lokasi sunset di waktu yang tepat. Terlebih jika sudah mendekati jam 5 sore, Anda sebaiknya sudah harus di Devil’s Tear.
Untuk menemukan lokasi ini tidaklah sulit walau ia tersembunyi. Cukup ingat nama Dream Beach. Nah, nanti Anda akan menjumpai sebuah hotel bernama Dream Beach Kubu. Ikuti jalan setapak di sebelah kiri hotel maka Anda akan mencapainya. Meski tidaklah luas, tapi Dream Beach lumayan bagus oleh pasir putihnya. Jika datang lebih awal, Anda bisa menjadi berleha-leha sejenak disana sebelum ke Devil’s Tear yang langsung bersisian letaknya.
Entah siapa yang memberi nama, namun Devil’s Tear memang tempat yang sungguh menakjubkan. Barangkali nama itu muncul dari fenomena alam, dimana kebuasan ombak yang menghantam dinding karang berpadu dengan senja hari yang memerah. Lubang besar yang menganga di bawah karang mencipratkan air dengan dasyatnya saat terhantam gelombang laut. Bunyi dentuman dan desis air serta udara bagaikan seringai makluk yang mengamuk.
Kami menghabiskan waktu lumayan lama di Devil’s Tear hingga bintang bermunculan di langit. Tempat yang begitu sepi tersebut menyiratkan aura misteri. Suatu saat nanti, saya ingin datang lagi kemari.
KETENTRAMAN SUASANA PAGI
Keesokannya, saya bangun subuh dan menderuhkan sepeda motor ke Mushroom Bay. Di tempat yang berbukit ini terdapat sejumlah resort serta villa berbintang. Tetapi niat saya bukan untuk melihat-lihat akomodasi disana melainkan ingin menikmati semburat mentari pagi, sunrise. Nasib baik tak berpihak, harapan saya untuk melihat matahari muncul di dekat Gunung Agung tak kesampaian karena ternyata titik terbit bergeser ke kanan. Pemandangan sebagian Pulau Lembongan dari ketinggian terselimuti kabut pagi agak mengobati kekecewaan saya.
Saya juga sebenarnya berniat mendatangi Goa Gala pagi itu, sialnya saya kebingungan mencari lokasi dimana goa berada. Goa Gala adalah gua buatan yang terdapat di bawah tanah dalam batu kapur. Konon, Goa Gala menjadi  tempat tinggal seorang pertapa. Sang pertapa menggali gua ini dan membentuknya seolah sebuah rumah selama belasan tahun, hanya dengan peralatan seadanya. Katanya pula disitu terdapat ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, sumur dan dapur. Saya juga penasaran ingin melihat relief yang terukir pada dinding gua dimaksud.
Ada yang menarik saya temukan. Penduduk pulau kecil ini rupanya gemar ber-jogging pagi-pagi. Pria maupun maupun wanita di semua usia berlari pelan naik turun turun bukit. Wah, warga yang sadar olahraga nih..
Kembali ke hotel, saya tidak langsung ke kamar tapi menyusuri pantai. Penduduk setempat yang kebanyakan nelayan telah beraktifitas. Ada yang membersihkan jala dan kapal, ada yang bertrasaksi jual beli ikan segar, ada yang mengangkut rumput laut. Sekelompok bocah saya lihat sibuk mencari cacing laut. Mereka memakai cara yang unik, cacing dipancing keluar hanya dengan menyiramkan air tawar ke atas pasir.
Wisatawan asing pun tak ketinggalan. Pagi-pagi sudah membawa papan luncurnya ke laut. Ya, ombak di sekitar Nusa Lembongan maupun Nusa Ceningan sudah terkenal bagi penyuka surfing dan katanya pagi hari merupakan saat paling tepat bermain dengan gulungan ombak. Karena keadaan belum begitu ramai, suasana tentram terasa sekali. Cahaya matahari hangat menyentuh kulit tapi belum  menyengat, pemandangan Gunung Agung di seberang pun menambah kecantikan pagi.
BERBURUH PARI MANTA
Kegiatan kami selanjutnya adalah berburuh Pari Manta. Demi bersua mereka, hari ini kami akan berlayar ke Nusa Penida. Doni, penyewa sepeda motor, telah menyanggupi untuk mencarikan kapal. Ia mengantar kami ke jalur menujuh Mangrove Point, disana kami ditunggui oleh Pak Kadek, orang yang nantinya membawa kami dengan boat ke Nusa Penida.
Awalnya boat kami melesat dengan mulus. Begitu masuk ke dalam selat antara Nusa Penida dengan Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, permukaan laut bak daun kelapa yang tertiup angin, bergelombang naik turun dengan cepat. Boat pun ikut terombang ambing. Anggieta, temanku, berkomentar bahwa kami seolah berada di atas roller coaster.
Boat mendekati Manta Point dan gelombang laut kian keras. Samar-samar mata saya menangkap titik-titik hitam di lautan. Wah, itukah ikannya? Namun nyali kami kendur berada di tengah gelombang yang keras itu. Tak ada yang mau melompat ke laut dalam keadaan demikian. Pak Kadek sendiripun mengaku tak berani berlama-lama. Apa mau dikata, terpaksa kami memutar haluan. Perburuan Manta itu memang tak sepenuhnya gagal. Hanya kondisi alam susah ditebak.
Melihat dengan jelas rupa Pari Manta di perairan Nusa Penida sebetulnya sudah pernah saya alami. Bedanya dulu saya melihat dari atas tebing. Seingatku jumlahnya terbilang banyak. Ikan bernama ilmiah Manta birostris tersebut menghuni di sebagian besar perairan tropis, lautan Indonesia termasuk salah satu area dengan jumlah Pari Manta terbanyak. Pari Manta merupakan jenis pari terbesar. Hewan pemakan plankton ini bersifat sama seperti Lumba-lumba, ramah terhadap manusia.
Mengobati kecewa, Pak Kadek membawa kami ke Crystal Bay. Tak sia-sia, Crystal Bay yang termasuk salah satu titik penyelaman Nusa Penida menyajikan keindahan yang asri dan asli. Sebuah pulau karang berlubang menghiasi teluk berpasir putih itu. Di musim-musim tertentu ikan Mola-Mola bertandang kesini. Ikan Mola-Mola tergolong ikan langkah dan bertubuh raksasa. Keunikan ikan ini terletak pada ujung tubuhnya yang nyaris seperti tanpa ekor.
Terdapat sebuah pura di pulau karang depan Crystal Bay, dengan anak tangga yang terputus. Kami tak hanya bersnorkeling tapi juga berenang ke daratan Nusa Penida. Saya menyukai lebatnya pohon-pohon kelapa disana. Ada sumur yang airnya tawar meski hanya 50 meter dari jaraknya dari laut. Kami berkenalan dengan seorang pria tua pemilik tanah, beliau berpesan bahwa kami boleh datang dan berkemah di pekarangannya tanpa harus bayar. Sebentuk keramahan yang menyenangkan hati.
Puas di Crystal Bay, kami berlayar lagi ke Gamat Bay. Tempat ini pun punya kehidupan bawah laut yang memanjakan mata. Saya sampai-sampai hanya berkutat di satu kumpulan koral lantaran struktur koralnya amat bagus ditunjang ikan beraneka warna.
Tengah hari, kami kembali ke Nusa Lembongan. Makan siang di restoran pinggir pantai. Saking lelahnya, habis makan semua kami terbaring nyenyak di atas pasir. Angin yang bertiup lembut membantu kami semakin lama dalam mimpi. Hingga akhirnya waktu menunjukkan angkah 15.30 sore, kami bergegas ke hotel, berkemas, lalu menujuh Pos Batu Jungut untuk menumpang boat pulang. Kali ini kami memilih speed boat. Sungguh akhir pekan yang menyenangkan di Tiga Nusa.
SEKILAS NUSA PENIDA, LEMBONGAN & CENINGAN
Walau paling sering di akses dari Sanur ataupun Benoa, namun secara administraf ketiga pulau ini masuk dalam wilayah Kabupaten Klungkung. Nusa Lembongan memiliki fasilitas pariwisata terlengkap dibanding Nusa Penida atau Ceningan. Tak tersedia sarana angkutan umum seperti bus, transportasi lebih memanfaatkan kendaraan roda dua.
Di Nusa Penida terdapat Bali Bird Santuary atau pusat pelestarian burung, terkhusus burung endemik, Jalak Bali (Leucopsar rothschild). Usaha pelestarian ini tercatat lumayan berhasil. Jika Anda tertarik untuk mengenalnya lebih jauh, tak ada salahnya menyempatkan untuk mengunjungi tempat yang sangat alamiah itu. Selain itu Nusa Penida juga terkenal dengan penerapan Bio Energi, yakni pemanfaatan kotoran hewan sebagai penghasil energy listrik.
http://www.travelxpose.com/index.php?option=com_content&view=article&id=333%3Atiga-nusa-yang-mendebarkan&catid=45%3Aexplore-domestik&Itemid=84&lang=en

Wisata Pulau jakarta di pulau seribu

pulau seribu
pulau seribu
Wisata Pulau Seribu. Terpesona dengan keindahan alam Pulau Seribu, berawal dari artikel sebelumnya yang pernah saya post yaitu Wisata Pulau Tidung. Ternyata trafik Berita Unik blog saya lumayan naik walapun posisi bukan pada halaman pertama. Kemudian saya baca-baca dari blog yang lain dan melihat foto-foto keindahan alam di Pulau Seribu membuat saya bangga dengan keindahan alam Indonesia. Dari situ saya baru mengetahui ternyata banyak sekali macam tempat wisata bahari yang ada di Pulau Seribu, serta dari banyaknya tawaran tour/paket wisata dari agen-agen pariwisata. Pulau Seribu bisa dijadikan pilihan untuk tempat wisata pilihan anda. Disini saya akan memberikan sekilas tentang macam wisata Pulau Seribu yang saya kumpulkan dari berbagai sumber-sumber blog andalan saya.

 Wisata Pulau Seribu


Pulau Ayer

Pulau Ayer adalah salah satu andalan wisata di Kepulauan Seribu yang punya sumber mata air tawar. Perjalanan dari Marina Ancol Jakarta dibutuhkan waktu kurang lebih sekitar 25 menit saja. Di Pulau Ayer ini dikenal dengan Cottage yang berada di atas air laut [Floating Cottages]. Sarana penunjang lainnya seperti restoran sampai masjid juga ada disana. Pulau Ayer juga melengkapi wisata baharinya mulai dari memancing, jetsky dan banana boat juga ada disana.


pulau seribu
Pulau Pramuka

Pulau Pramuka disini anda bisa menemukan keramah tamahan dan senyuman khas Indonesia dari penduduk sekitar. Selain bisa berwisata menikmati indahnya pantai Pulau Pramuka anda akan dimanjakan dengan keramahan penduduknya. Pulau dengan kejernihan air laut dan juga pasir putihnya yang menawan hati akan membuat anda dimanjakan dengan pesona alam sekitar. Fasilitas yang diberikan juga tidak kalah lengkap dengan pulau-pulau lain yang berada di Pulau Seribu. Mulai dari tempat beribadah seperti masjid, restoran, tempat olahraga, rumah sakit dan yang lainnya bisa membuat anda betah dan nyaman berada di pulau ini. Yang paling menarik di Pulau Pramuka adalah keindahan alam bawah lautnya, terumbu karang yang masih alami dan anda bisa berenang dengan beragam ikan hias yang akan menemani anda.


Pulau Kotok

Pulau Kotok satu hal menarik dan berbeda yang bisa ditemukan di pulau ini adalah dari cottage yang menarik dan dibilang unik dikarenakan cottage yang ada di pulau ini bukan berada di atas air melainkan berada diatas pohon. Anda bisa mendapatkan pengalaman baru dengan menikmati suasana alam yang dilihat dari cottage atas pohon. Pulau Kotok juga dijadikan konservasi elang bondol, burung ini dijadikan sebagai maskot atau simbol dari DKI Jakarta. Di Pulau Kotok juga bisa anda nikmati wisata bahari menawan seperti pulau-pulau yang lainnya.


Pulau Bidadari

Pulau Bidadari yang membedakan dengan pulau yang lainnya adalah fasilitas yang diberikan di Pulau Bidadari ini dari model bangunan cotagge khas dengan gaya etnis Manado. Dari macam bentuk sarana dan fasilitas yang diberikan seperti tempat olahraga, tenis meja, bola volley, dan banyak lagi yang bisa anda dapatkan disini. Bermacam wisata bahari juga lengkap, untuk anda yang suka tantangan adrenalin bisa mencoba jetski dan banana boat. Buat anda yang punya hobi mancing juga bisa anda salurkan disini. Banyak juga disewakan perahu untuk anda mancing mania. Oh ya, Pulau Bidadari ini dulunya bernama pulau sakit, karena pada saat abad ke 17 Pulau Bidadari ini dibangun sebuah rumah sakit untuk penderita penyakit kusta dan lepra oleh Belanda. Bersamaan itu pula Belanda membangun benteng yang dinamai Martello. Benteng ini dijadikan untuk pertahan Belanda dari musuh-musuhnya. Pada awal tahun 70an pulau ini dijadikan untuk tempat pariwisata. Selain keindahan alam laut yang bisa dinikmati anda juga bisa mengetahui sejarah-sejarah yang ada di Pulau Bidadari.


Pulau Sepa

Pulau Sepa masih satu lingkup wilayah Pulau Seribu, cocok sekali untuk anda yang lagi berwisata dengan pasangan anda. Pulau Sepa dengan pasir pantai dan tepi pantainya belum tertutupi batuan, karena pantai ini tidak begitu luas anda bisa menikmati serta mengitari pulau ini dengan berjalan kaki. Suasana romantis waktu senja bisa dinikmati bersama pasangan anda. Seperti pulau-pulau yang lain keindahan alam bawah laut disini sangat menarik. Ikan hias warna-warni dan terumbu karang alami bisa memanjakan anda. Yang hobi mancing mania juga bisa anda salurkan disini, habitat ikan dipulau ini masih terjaga apik dan bisa dipastikan anda bisa mendapatkan hasi pancing yang banyak tetapi ada larangan untuk macing secara berlebihan demi menjaga kelestarian bawah laut Pulau Sepa.


Pulau Putri

Saat anda memasuki Pulau Putri patung putri duyung yang menawan akan menyambut, selain patung putri duyung keindahan alam wisata bahari juga bisa anda peroleh di Pulau Putri ini. Fasilitas lebih dari Pulau Putri ini adalah adanya Undersea Aquarium atau akuarium yang berada dibawah laut yang berada pada kedalaman kurang lebih 5 meter dan akuarium bawah laut ini mempunyai  panjang kurang lebihnya sekitar 15 meter dibalut kaca tembus pandang. Disaat anda berada di akuarium ini bisa anda nikmati keindahan pada dasar laut dan beragam spesies ikan hias warna-warni yang indah. Cocok sekali untuk wisata bersama keluarga. Undersea Akuarium ini merupakan satu-satunya akuarium yang berada di Pulau Seribu, sayang kalau sampai anda lewatkan. Selain itu masih ada lagi fasilitas yang ada di Pulau Putri ini yakni Glass Botton Boat atau kapal-kapal yang dasar dari kapal di lengkapi dengan kaca tembus pandang. Dikapal ini anda bisa melihat keindahan dasar laut, birunya air laut serta kejernihan air anda bisa melihat jelas ikan-ikan dan terumbu karang dasar laut. Keindahan lainnya adalah sunsetnya, anda bisa menikmati tenggelamnya matahari sambil naik kapal, menambah hangat dan romantis bersama keluarga anda. Tantangan adrenalin dengan banan boat juga ada disana.
sumber : http://gedebekan.blogspot.com/2012/11/macam-wisata-pulau-seribu.html

Wisata Menarik di Utara Pulau jawa Tengah Karimunjawa

Pulau Karimunjawa terletak di kepulauan Laut Jawa yang masih termasuk Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Karimunjawa ditemukan oleh Sunan Muria. Legenda cerita yang beredar kala itu, Sunan Muria prihatin dengan kenakalan anaknya, Amir Hasan. Sunan Muria bermaksut mendidik anaknya kemudian memerintahkan anaknya pergi ke sebuah pulau yang tampak kabur "kremun kremun" dari puncak gunung Muria. Agar si anak memperdalam serta mengembangkan ilmu agamanya. Dari kata-kata 'kremun kremun itulah nama Pulau Karimunjawa dipakai.

  Pada tanggal 15 Maret 2001, Karimunjawa ditetapkan pemerintah Jepara sebagai Taman Nasional. Karimunjawa dijadikan rumah terumbu karang, hutan bakau, serta 400spesies fauna laut, terdapat 242 jenis ikan hias. Dan banyak fauna langka yang berhabitat disini, penyu sisik,penyu hijau dan elang laut dada putih. Tumbuhan khas Taman Nasional Karimunjawa ialah dewadaru [Crystocalyx macrophyla] yang banyak terdapat pada hutan hujan dataran rendah. Ombak disana tergolong rendah dan jinak, dibatasi pantai yang berpasir putih halus.

  Tranportasi umum menuju Pulau Karimunjawa bisa lewat laut dan udara.  Untuk perjalanan lewat udara ditempuh dari Bandara Ahmad Yani, Semarang menuju ke Bandar Udara Dewa Daru di Pulau Kemujan dengan pesawat CASSA 212 yang telah di sediakan oleh   PT. Wisata Laut Nusa Permai  [Kura-Kura Resort]. Waktu yang ditempuh kurang lebih sekitar 30 menit.  Untuk perjalanan lewat laut, dari Semarang dan Jepara. Kalau dari Tanjung Emas, Semarang kita bisa naik kapal cepat, berangkatnya tiap hari Sabtu jam 9 pagi, kapal balik dari Karimunjawa hari Minggu siang, lama perjalanan sekitar 2-3 jam. Untuk yang lewat Pelabuhan Pantai Kartini, Jepara naik kapal Muria berangkat setiap 2 hari sekali. Lama perjalanan kurang lebih sekitar 6 jam. Biasanya berangkat hari Selasa,Kamis,Sabtu jam 9 pagi. Untuk balik hari Rabu,Jumat,Minggu jam 8 pagi. Tetapi jadwal bisa berubah dengan kondisi cuaca dan ombak di Laut Jawa. Untuk Pelabuhan Jepara bisa membawa kendaraan, motor dan mobil.

  Untuk teman-teman yang mau berwisata ke Pulau Karimunjawa jangan lupa ajak aku.                        

Foto Pulau Karimunjawa





















































Berenang bersama hiu, sensasi adrenalin. Enak kali ya kalau ditoel-toel hiu.
sumber : http://gedebekan.blogspot.com/2012/09/foto-pulau-karimunjawa.html

jejak kerajaan majapahit di candi cetho


12903126641672861135Candi Cetho ini terletak di dusun Cetho Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karangayar, terletak pada 1400m di atas permukaan air laut. Dari Magetan tempat ini ditempuh dengan kendaraan pribadi selama 2 jam perjalanan, melewati jalan tembus Cemoro Sewu yang siang itu terlihat mulus dan tidak begitu ramai, maklum bukan hari libur. Awalnya saya pikir bahwa Candi ini letaknya tidak jauh dari air Terjun Grojogan Sewu Tawangmangu, ternyata perkiraan saya salah besar.
Dari Tawangmangu mobil terus melaju ke arah kota Karanganyar, menyusuri jalanan khas pegunungan yang curam dengan kelokan-kelokan tajam, terus melaju melewati Patung Semar di Karang Pandan. Tidak jauh dari tempat itu ada pertigaan, dan mobil membelok ke kanan. Membelah desa-desa di wilayah kecamatan Kemuning. Maaf saya tak sempat menghafal desa mana saja yang kami jelajahi, karena terus terang saya ngeri dengan medan yang harus kami lewati. Di salah satu gate ada petugas menghentikan, kami membayar retribusi untuk kendaraan seharga Rp 5.000,00. Begitu melewati gate itu saya baru tahu bahwa gate itu merupakan pintu masuk untuk tiga lokasi wisata yaitu Candi Sukuh, Candi Cetho dan Air Terjun Jumog.
12903127641829422237Semakin jauh, jalan semakin menanjak, mobil mulai memasuki perkebunan teh, yang siang itu terlihat sangat indah. Mobil meliuk-liuk membelah perkebunan teh, melingkari bukit-bukit hijau, kadang membelok tajam dan harus mampu melewati tanjakan-tanjakan setan yang luar biasa menantang, untung skill mengemudi teman saya bisa diandalkan. Sepanjang mata memandang hanya “hijau” yang kami temukan. Satu putaran lagi, kata teman saya, candinya ada di puncak bukit itu, begitu katanya sambil menunjuk sebuah bukit di depan sana. Oh God…Lindungilah Kami, jalannya kecil dan ada sebagian ruas yang tertimbun tanah karena longsoran dari bukit diatasnya.
1290312848830983241Dengan perjuangan, akhirnya sampai juga di sana, memasuki dusun Cetho mobil membelok ke kiri, dan salah satu gapura candi terlihat begitu menantang. Tiket masuk ke candi seharga Rp 4.000,00 per orang.
Menurut http://id.wikipedia.org, candi Cetho ini dibangun pada akhir masa Kerajaan Majapahit (sekitar abad ke 15). Pada keadaannya yang sekarang, Candi Cetho terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman dan di sini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho. Pada aras ketiga terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang.
1290312954815929311Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudhamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. Pada aras kedelapan terdapat arca phallus (disebut “kuntobimo”) di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.
12903130411080350460
12903131371975548203
Satu per satu aras saya lewati, dengan tidak melewatkan setiap detail yang ada di sana. Siang itu sepanjang perjalanan mengelilingi candi, kabut tak henti-hentinya turun, langit mendung sepanjang hari, tak ada langit biru. Semakin tinggi, semakin terasa hembusan anginnya. Brrrrrrr…dingin terasa di kulit.
1290313260392256712
129031332656427818
Kini, sampailah saya di aras ke delapan. Aras kesembilan tertutup untuk umum, pintu pagar kecil terlihat terkunci. Dan disinilah saya sekarang, memandang jauh ke bawah, menyaksikan kembali jalan-jalan yang sudah saya lewati. Saya merasa terlempar ke masa yang berbeda, memasuki negeri di atas awan. Hmmmmmmmm….sendu dan senyap. Maka tak heran jika sampai sekarang Candi ini masih digunakan untuk upacara keagamaan, khususnya agama Hindu.
Sepanjang mata memandang, banyak sekali saya temukan pahatan kasar berbentuk penyu, karena penasaran akhirnya saya bertanya ke juru kunci. Akhirnya sang Juru Kunci berkata bahwa penyu merupakan perlambang akan penyuwunan/penjalukan  yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai permintaan atau permohonan kepada Sang Maha.
sumberhttp://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan
1290313578428168619