welcome

We kindly serve you, find your identity in Indonesia

history

Indonesia has strong historical roots, has a priceless masterpiece

Floating market

The uniqueness is a part of Indonesian life

metropolitan

Indonesia has a magnificent way of life

culinary

have a high culinary taste since antiquity

pray

the source of all sources of life is god

Romantic

the source of all sources of life is god

Tampilkan postingan dengan label Kehidupan Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Februari 2013

Ternyata Benar Benua Atlantis Di Indonesia


“Atlantis The Lost Continents Finally Found”. Dimana ditemukannya ? Secara tegas dinyatakannya bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia (?!). Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis yang memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari yang Kuasa. Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, dan upaya penelusuran terus pula dilakukan guna menemukan sisa-sisa peradaban tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis itu.
Pencarian dilakukan di Samudera Atlantik, Laut Tengah, Karibia, sampai ke kutub Utara. Pencarian ini sama sekali tidak ada hasilnya, sehingga sebagian orang beranggapan bahwa yang diceritakan Plato itu hanyalah negeri dongeng semata. Profesor Santos yang ahli Fisika Nuklir ini menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena dicari di tempat yang salah. Lokasi yang benar secara menyakinkan adalah Indonesia, katanya..
Prof. Santos mengatakan bahwa dia sudah meneliti kemungkinan lokasi Atlantis selama 29 tahun terakhir ini. Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology. Buku Santos sewaktu ditanyakan ke ‘Amazon.com’ seminggu yang lalu ternyata habis tidak bersisa. Bukunya ini terlink ke 400 buah sites di Internet, dan websitenya sendiri menurut Santos selama ini telah dikunjungi sebanyak 2.500.000 visitors. Ini adalah iklan gratis untuk mengenalkan Indonesia secara efektif ke dunia luar, yang tidak memerlukan dana 1 sen pun dari Pemerintah RI.
Plato pernah menulis tentang Atlantis pada masa dimana Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western World). Sampai saat ini belum dapat dideteksi apakah sang ahli falsafah ini hanya menceritakan sebuah mitos, moral fable, science fiction, ataukah sebenarnya dia menceritakan sebuah kisah sejarah. Ataukah pula dia menjelaskan sebuah fakta secara jujur bahwa Atlantis adalah sebuah realitas absolut ?
Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.
Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Yang kuasa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu.
Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat. Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.
Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.
Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia.
Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.
Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.
Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.
Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan. Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) .
Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut.
Gletser di kutub Utara dan Eropah kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia. Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi.
Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleitocene secara dramatis.
Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang.
Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.
Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.
Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain.
Walau dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama.
Santos menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, dimana 2 buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas.
Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu. Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene.
Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya. Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini (!). Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika.
Suku Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus. . Karena glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara.
Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.
Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi cuci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut.
Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia. Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution.
Bahasa-bahasa dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik. Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia.
Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain. Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.
Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia. Bukti-bukti yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi alternative lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matrix yang disebutnya sebagai ‘Checklist’.
Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia. Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas.
Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu tahun. Contoh kecilnya, ya perbandingan yang sangat populer tentang orang Malaysia dan Indonesia; dimana 30 tahunan yang lalu mereka masih belajar dari kita, dan sekarang mereka relatif berada di depan kita.
Allah SWT juga berfirman bahwa nasib manusia ini memang dipergilirkan. Yang mulia suatu saat akan menjadi hina, dan sebaliknya. Profesor Santos akan terus melakukan penelitian lapangan lebih lanjut guna membuktikan teorinya. Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya akan mampu membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga masih tersembunyi di dasar laut di Indonesia.
Apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia ? Bagaimana pula pakar Indonesia dari berbagai disiplin keilmuan menanggapi teori yang sebenarnya “mengangkat” Indonesia ke posisi sangat terhormat : sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh dunia ini ?
Coba kita renungkan penyebab Atlantis dulu dihancurkan : penduduk cerdas terhormat yang berubah menjadi ambisius serta berbagai kelakuan buruk lainnya (mungkin ‘korupsi’ salah satunya). Nah, salah-salah Indonesia sang “mantan Atlantis” ini bakal kena hukuman lagi nanti kalau tidak mau berubah seperti yang ditampakkan bangsa ini secara terang-terangan sekarang ini.


Demikian kutipan dari Catatan Bang Ferdy Dailami Firdaus tentang Teori Santos secara ringkas. Bagi yang berminat untuk membaca lebih jelas, dapat langsung ke website Profesor Arysio Nunes Dos Santos – Atlantis The Lost Continent Finally Found http://www.atlan.org/ (badruttamamgaffas.blogspot.com)

Minggu, 17 Februari 2013

Pulau - pulau terluar di Indonesia


Indonesia merupakan negara kepulauwan yang memiliki banyak pulau diantara banyak pulau yang ada di indonesia salah satunya ada pulau pulau yang menjadi pulau terluar yang berbatansan langsung dengan negara tetanga. Nah berikut ini ada 1o pulau terluar di Indonesia kamu mau tahu pulau apa aja itu simak berikut ini.




1.Pulau Alor
Alor adalah sebuah pulau yang terletak di ujung timur Kepulauan Nusa Tenggara. Luas wilayahnya 2.119 km², dan titik tertingginya 1.839 m. Pulau ini dibatasi oleh Laut Flores dan Laut Banda di sebelah utara, Selat Ombai di selatan (memisahkan dengan Pulau Timor), serta Selat Pantar di barat (memisahkan dengan Pulau Pantar. Pulau Alor adalah satu dari 92 pulau terluar Indonesia karena berbatasan langsung dengan Timor Leste di sebelah selatan.

2. Pulau Ararkula
Pulau Ararkula berdasarkan perpres 78 tahun 2005 merupakan salahsatu pulau terluar di Indonesia. Namun secara fisik pulau tersebut hanyalah gosong pasir. Pulau Ararkula ini tidak berpenghuni. Pulau Ararkula (nama lokalnya yaitu Pulau Konan Danar) menjadi tempat singgah dan tempat tinggal sementara bagi masyarakat dari desa-desa sekitar (khususnya desa Salmona/Selemona) yang sedang mencari hasil laut, dengan mendirikan bangunan-bangunan ukuran kecil dari kayu dan atapnya dari daun kelapa. Pulau ini ditumbuhi berbagai macam vegetasi, seperti pohon kelapa, sagu, mangrove dan lain-lain.

3. Nusa Barung
Nusa Barung (atau Barong) adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Pulau ini adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudra Hindia dan berbatasan dengan negara Australia. Pulau Barung ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah kabupaten Jember, sebelah selatan dari provinsi Jawa Timur, Indonesia.

4. Pulau Batek
Pulau Batek (Fatu Sinai) adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Sawu dan berbatasan dengan negara Timor Leste. Pulau Batek ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah kabupaten Kupang, provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau ini berada di sebelah timur laut dari kota Kupang dengan koordinat 9° 15′ 30″ LS, 123° 59′ 30″ BT.

5. Pulau Berakit
Pulau Berakit atau Pulau Batu Berhanti adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di perbatasan Indonesia dengan Singapura, dan merupakan wilayah dari pemerintah kota Batam, provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berada di sebelah barat laut dari pulau Sambu (pangkalan minyak Pertamina di pulau Batam) yang dapat dilihat dalam jalur perjalanan ferry dari pelabuhan Batam Centre menuju pelabuhan HarborFront di Singapura. Letak koordinat dari pulau Batu Berhanti adalah 1°11′6″LU,103°52′57″BT.

6. Pulau Batu Goyang
Pulau Batu Goyang adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Aru dan berbatasan dengan negara Australia. Pulau Batu Goyang ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, provinsi Maluku. Pulau ini berada di sebelah selatan dari Pulau Aru dengan koordinat 7° 57′ 1″ LS, 134° 11′ 38″ BT.

7. Pulau Berhala
Pulau Berhala adalah sebuah pulau di Jambi, Indonesia[1]. Pulau ini merupakan pulau terluar Indonesia di Selat Malaka, Pulau yang kaya akan hutan akar bahar ini menyimpan berbagai jenis terumbu karang (Intertidal Coral Reef dan Karang Tengah) dalam radius 200 M dari bibir pantai yang tidak kurang dari 22 spesies dan jenis ikan karang dapat terlihat dari 11 spesies, bila anda menyelam kesana. Luasnya adalah 2,5 km². Berhala memiliki topografi bergunung dengan hutan lebat dan pantai yang putih bersih. Pada awal dan akhir tahun, pantai Pulau Berhala menjadi tempat persinggahan penyu untuk bertelur. Pulau yang kaya akan hutan akar bahar ini menyimpan berbagai jenis terumbu karang (Intertidal Coral Reef dan Karang Tengah) dalam radius 200 M dari bibir pantai yang tidak kurang dari 22 spesies dan jenis ikan karang dapat terlihat dari 11 spesies, bila anda menyelam kesana.

8. Pulau Batu Goyang
Pulau Batu Goyang adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Aru dan berbatasan dengan negara Australia. Pulau Batu Goyang ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, provinsi Maluku. Pulau ini berada di sebelah selatan dari Pulau Aru dengan koordinat 7° 57′ 1″ LS, 134° 11′ 38″ BT.

9. Pulau Fanildo
Pulau Fanildo adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudra Pasifik dan berbatasan dengan negara Palau. Pulau Fanildo ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Biak Numfor, provinsi Papua. Pulau ini berada di sebelah utara dari Kota Manokwari dengan koordinat 0° 56′22″ LU, 134° 17′44″ BT.

10. Pulau Karimun Kecil
Pulau Karimun Kecil (Pulau Anak Karimun), adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Selat Malaka yang berbatasan dengan negara Malaysia, dan merupakan wilayah dari kabupaten Karimun, provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berada di utara pulau Karimun dengan koordinat 1° 9′ 59″ LU, 103° 23′ 20″ BT, dan dalam peta wikimapia dapat dilihat pada lokasi ini. Pulau ini juga dapat dilihat dalam perjalanan ferry dari pelabuhan Tanjung Balai Karimun menuju pelabuhan HarborFront, Singapura.
sumber : http://cerita-indonesian.blogspot.com/2013/01/10-pulau-terluar-indonesiain.html

Asal usul Mitos dan sejarah Danau Toba

Seperti yang kita ketahui, Danau toba adalah danau vulkanik dimana di tengah-tengah danau ini terdapat sebuah pulau yang disebut Pulau Samosir. Danau Toba merupakan salah satu danau terbesar di Asia Tenggara yang terletak di Indonesia, tepatnya di Provinsi Sumatera Utara. Dari dulu hingga sekarang, danau ini menjadi tempat wisata yang menarik baik dalam negeri maupun luar negeri. Sedangkan untuk mayoritas penduduk di sekitar daerah danau toba adalah orang batak dengan sumber mata pencaharian sebagai petani, pedagang dan nelayan. Untuk mengetahui lebih jauh dan jelas tentang awal mula / seluk beluk / sejarah danau toba, berikut awalmula.com kutik dari berbagai sumber mengenai sejarah danau toba dan cerita rakyat awalmula danau toba.





Sejarah Danau Toba
Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.


Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya.


Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.


Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.


Selama tujuh tahun, para ahli dari oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.
Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu. Bukti-bukti yang ditemukan, memperkuat dugaan, bahwa kekuatan letusan dan gelombang lautnya sempat memusnahkan kehidupan di Atlantis. (Wikipedia Indonesia)


Cerita Rakyat Awal Mula Danau Toba
Di wilayah Sumatera hiduplah seorang petani yang sangat rajin bekerja. Ia hidup sendiri sebatang kara. Setiap hari ia bekerja menggarap lading dan mencari ikan dengan tidak mengenal lelah. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Pada suatu hari petani tersebut pergi ke sungai di dekat tempat tinggalnya, ia bermaksud mencari ikan untuk lauknya hari ini. Dengan hanya berbekal sebuah kail, umpan dan tempat ikan, ia pun langsung menuju ke sungai. Setelah sesampainya di sungai, petani tersebut langsung melemparkan kailnya. Sambil menunggu kailnya dimakan ikan, petani tersebut berdoa,“Ya Alloh, semoga aku dapat ikan banyak hari ini”. Beberapa saat setelah berdoa, kail yang dilemparkannya tadi nampak bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani tersebut sangat senang sekali, karena ikan yang didapatkannya sangat besar dan cantik sekali.




Setelah beberapa saat memandangi ikan hasil tangkapannya, petani itu sangat terkejut. Ternyata ikan yang ditangkapnya itu bisa berbicara. “Tolong aku jangan dimakan Pak!! Biarkan aku hidup”, teriak ikan itu. Tanpa banyak Tanya, ikan tangkapannya itu langsung dikembalikan ke dalam air lagi. Setelah mengembalikan ikan ke dalam air, petani itu bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik.


“Jangan takut Pak, aku tidak akan menyakiti kamu”, kata si ikan. “Siapakah kamu ini? Bukankah kamu seekor ikan?, Tanya petani itu. “Aku adalah seorang putri yang dikutuk, karena melanggar aturan kerajaan”, jawab wanita itu. “Terimakasih engkau sudah membebaskan aku dari kutukan itu, dan sebagai imbalannya aku bersedia kau jadikan istri”, kata wanita itu. Petani itupun setuju. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.
Setelah beberapa lama mereka menikah, akhirnya kebahagiaan Petani dan istrinya bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak mereka tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan kuat, tetapi ada kebiasaan yang membuat heran semua orang. Anak tersebut selalu merasa lapar, dan tidak pernah merasa kenyang. Semua jatah makanan dilahapnya tanpa sisa.


Hingga suatu hari anak petani tersebut mendapat tugas dari ibunya untuk mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi tugasnya tidak dipenuhinya. Semua makanan yang seharusnya untuk ayahnya dilahap habis, dan setelah itu dia tertidur di sebuah gubug. Pak tani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Karena tidak tahan menahan lapar, maka ia langsung pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang, pak tani melihat anaknya sedang tidur di gubug. Petani tersebut langsung membangunkannya. “Hey, bangun!, teriak petani itu.


Setelah anaknya terbangun, petani itu langsung menanyakan makanannya. “Mana makanan buat ayah?”, Tanya petani. “Sudah habis kumakan”, jawab si anak. Dengan nada tinggi petani itu langsung memarahi anaknya. “Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri! Dasar anak ikan!,” umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan dari istrinya.
Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba.
  sumber : http://cerita-indonesian.blogspot.com/2012/07/sejarah-asal-usul-danau-toba-indonesia.html

Rabu, 13 Februari 2013

Desa Penglipuran Bali, Desa Internasional

Sekalipun Bali banyak didatangi turis mancanegara yang berasal dari berbagai negara di dunia, namun bukan berarti serta-merta Bali kehilangan jati diri dan nuansa adatnya. Masyarakat Bali terkenal sebagai masyarakat yang taat dan rigid dalam memertahankan eksistensi budayanya. Desakan modernitas tak mampu mengaburkan dan menghilangkan budaya lokal yang hingga kini dianut masyarakat setempat secara kuat.

Salah satu desa yang masih mempertahankan warisan nenek moyang atau leluhur adalah Desa Adat Penglipuran. Desa ini memiliki keunikannya tersendiri karena, misalnya, corak pintu gerbangnya (mereka menyebutnya dengan “angkul-angkul”) terlihat sama satu dengan yang lainnya. Begitu juga dengan penampilan fisik Desa Penglipuran yang sangat indah dan khas. Jalan yang menuju ke desa ini terlihat begitu terawat, bersih dan berundah-undak.
Potensinya Besar

Jangan tanya soal potensi wisata desa ini karena Penglipuran terkenal dengan adatnya yang unik serta memiliki frekuensi perayaan keagamaan yang sangat tinggi. Memang sentuhan modernitas tak bisa dihilangkan dari desa ini terlebih makin masifnya wisatawan yang datang, namun letak perumahan pada masing-masing keluarga tetap menganut falsafah Tri Hita Karana.

Apa yang dimaksud dengan Tri Hita Karana? Yakni sebuah ajaran filosopis yang senantiasa menjaga keharmonisan dalam relasi antar-sesama manusia, manusia dengan lingkungannya, serta manusia dengan Tuhan. Para generasi penerus Desa Penglipuran yang meskipun menikmati pendidikan formal sampai ke tingkatan universitas namun tetap  diajarkan untuk selalu melestarikan tradisi yang diwarisi dari para leluhurnya. Mislanya saja, bangunan suci selalu terletak di hulu, perumahan di tengah, sedangkan ladang usaha berada di pinggir atau hilir.
Areal pemukiman serta jalan utama desa adat penglipuran adalah areal bebas kendaraan terutama roda empat. Keadaan ini,  semakin memberikan kesan nyaman bagi para wisatawan yang datang. Kata penglipuran berasal dari kata penglipur yang artinya penghibur,  karena semenjak jaman kerajaan , tempat ini adalah salah satu tempat yang bagus untuk peristirahatan.
Asal Kata Penglipuran
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kata “Penglipuran” dipercaya berasal dari kata Pengeling Pura yang memiliki arti tempat yang suci untuk mengingat para leluhur. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani, namun kini mereka mulai beralih menjadi membuka industri usaha kecil dan kerajinan rumah tangga.
Desa adat Penglipuran berada di bawah administrasi Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, yang berjarak 45 km dari kota Denpasar. Letaknya berada di daerah dataran tinggi di sekitar kaki Gunung Batur. Berdasarkan data tahun 2001 yang dihimpun pemerintah, Desa Adat Penglipuran memiliki luas wilayah sekitar 1,12 Ha.
Selamat Berkunjung!

SUMBER : http://bali.panduanwisata.com/spot-wisata/menyambangi-desa-adat-penglipuran/

Jumat, 01 Juni 2012

Desa Wisata Indonesia

Tak bisa kita pungkiri bila sektor pariwisata menjadi salah satu potensi daerah yang banyak dikembangkan masyarakat Indonesia. Melimpahnya kekayaan alam Indonesia dan uniknya budaya lokal yang kita miliki, memberikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik maupun turis mancanegara. Sehingga tidak heran bila sampai hari ini sektor pariwisata Indonesia menjadi salah satu penyumbang dana yang cukup besar bagi Pendapatan Daerah di seluruh penjuru nusantara.
Memanfaatkan potensi alam yang cukup melimpah, masyarakat di berbagai daerah Indonesia kini mulai mengoptimalkan sektor pariwisata dengan membangun kawasan desa wisata. Strategi ini sengaja dibangun masyarakat untuk mengajak para wisatawan lokal maupun internasional untuk mengenal lebih dekat kekayaan alam, budaya, maupun tradisi masyarakat di berbagai pelosok desa. Melalui program desa wisata, diharapkan masyarakat bisa memperkenalkan tradisi dan budaya lokal kepada masyarakat luas serta mengangkat perekonomian masyarakat di sekitar desa tersebut.
Beragam program dan paket wisata pun kini mulai ditawarkan masyarakat pedesaan untuk menjamu para wisatawan lokal maupun internasional. Misalnya saja seperti puluhan desa wisata yang terdapat di Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali dan lain sebagainya.
Nah, untuk mengenal lebih dekat potensi desa wisata Indonesia, berikut adalah beberapa wilayah di nusantara yang memiliki potensi  cukup potensial.
Desa Wisata di Yogyakarta
Sebagai kota budaya, Yogyakarta tentunya menjadi salah satu kota tujuan wisata yang ramai dikunjungi para pelancong. Selain kawasan Malioboro yang menjadi tujuan belanja bagi para wisatawan, Yogyakarta ternyata memiliki kawasan desa wisata yang cukup potensial.
Misalnya saja seperti puluhan desa wisata di daerah Turi yang memanjakan para wisatawannya dengan potensi salak pondoh yang berlimpah dan menyuguhkan pesona alam pedesaan yang masih sangat asri, atau bisa juga mengunjungi desa wisata kerajinan seperti di daerah Kasongan (sentra kerajinan gerabah), Krebet (sentra kerajinan batik kayu) serta Manding (sentra kerajinan kulit), sampai dengan desa wisata budaya yang belakangan ini mulai diminati wisatawan mancanegara seperti desa wisata Tembi maupun jelajah kampung budaya di gang sempit Dipowinatan,Yogyakarta.
Keunikan budaya Jawa yang masih sangat terasa dan keasrian panorama alam yang dimiliki kota Yogyakarta, mendorong masyarakat di berbagai sudut kota Jogja untuk memanfaatkan potensi tersebut untuk meningkatkan perekonomian desa setempat.
kampung wisata 200x124 Potensi Desa Wisata Indonesia
Desa Wisata di Jawa Tengah
Selain Kota Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah ternyata juga memiliki potensi desa wisata yang beragam. Mulai dari kampung wisata Candirejo yang mengajak para wisatawan untuk mengenal lebih dekat kehidupan sehari-hari masyarakat desa setempat, kawasan Dieng yang memanjakan wisatawan dengan pesona alamnya yang menawan dan potensi agrobisnis yang cukup berlimpah; desa wisata Duwet Klaten yang menyajikan budaya tradisional Jawa dan aneka macam kerajinan; Karangbanjar, Purbalingga yang menyajikan pemandangan desa yang masih alami; Karimunjawa dengan daya tariknya pesona taman bawah laut, serta masih banyak lagi desa wisata lainnya seperti daerah Ketenger, Selo, serta kampung batik di Desa Laweyan Solo, Jawa Tengah.
Desa Wisata Jawa Barat
Dikelilingi daerah pegunungan, menjadikan Daerah Jawa Barat memiliki panorama alam yang sangat menawan dan tingkat kesuburan tanah yang cukup tinggi. Melihat potensi tersebut, tidaklah heran bila daerah yang memiliki suhu udara cukup sejuk ini memiliki potensi desa wisata cukup beragam.
Sebut saja seperti kawasan agro Ciwidey yang menawarkan beberapa potensi desa wisata kebun strawberi dan aneka olahannya, Desa Wisata Lembur Kahuripan yang memiliki pemandangan sawah dan pemandangan bukit nan hijau, atau mengunjungi Kampung Wisata Industri Cikaret untuk menikmati wisata usaha rumahan seperti industri sandal, tahu, tempe, wayang golek, serta souvenir daur ulang limbah.
Desa Wisata Bali
Tidak hanya Pulau Jawa saja yang memiliki potensi budaya begitu beragam dan pemandangan alam yang cukup menawan. Pulau Bali yang dikenal masyarakat dunia sebagai surga kecil di negara Indonesia, ternyata juga memiliki potensi desa wisata yang sangat menarik, mulai dari aktivitas camping, tracking, refreshing, hingga memperdalam budaya dan tradisi Bali, bisa Anda dapatkan di Desa Wisata Ambengan, Provinsi Bali.
Kondisi alamnya yang dikelilingi persawahan dengan sistem terasering (sengkedan) dan didukung dengan empat air terjun serta beberapa kolam alami, membuat pemandangan Desa Wisata Ambengan semakin mempesona para wisatawan. Hal inilah yang menjadikan Desa Wisata Ambengan di Kabupaten Buleleng Bali ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.
Melihat kesadaran masyarakat desa yang mulai tergerak untuk mengembangkan segala potensi yang terdapat di daerahnya, tidak menutup kemungkinan bila di masa-masa yang akan datang keadaan ekonomi di daerah pedesaan akan setara dengan pergerakan ekonomi di kota-kota besar. Semoga informasi potensi bisnis daerah ini bisa memberikan tambahan wawasan bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia untuk mengoptimalkan potensi di sekitarnya. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.
Sumber gambar :
1. http://www.kabarhotel.com/wp-content/uploads/2012/03/desa-wisata.jpg
2. http://sewasepedajogja.com/wp-content/uploads/2011/12/Wisata-Pedesan-di-Jogja-dengan-bersepeda.jpg

Selasa, 01 November 2011

Keindahan Pulau Kanawa, Nusa Tenggara Timur


Pulau-pulau kecil, bak mutiara, menjalin Indonesia menjadi negara kepulauan nan indah. Pulau Kanawa di Kepulauan Komodo, Nusatenggara Timur, salah satu dari mutiara itu. Birunya laut yang jernih, indahnya terumbu karang, dan kesunyian yang menenangkan bisa dinikmati dengan biaya relatif murah.

Nama Pulau Kanawa pertama kali saya ketahui saat berada di ruang bagasi Bandara Komodo, Labuanbajo. Flores, Nusatenggara Timur. Beberapa poster yang mempromosikan penginapan di Labuanbajo dan sekitarnya tertempel di tembok. Saya agak bingung untuk memilih, berhubung ini kunjungan pertama di Labuanbajo.

Saat pintu keluar dibuka, serombongan laki-laki langsung masuk berhamburan. Mereka berebut menawarkan prospektus hotel. Hans, salah satu di antaranya, yang fasih berbahasa Inggris, Belanda, dan Jerman, dengan antusias menawarkan Kanawa.

"Hanya Rp 50.000,- per malam termasuk makan pagi, ongkos antar-jemput di Labuanbajo, dan sewa alat snorkel. Hanya 40 menit dari Labuanbajo dengan kapal. Anda tidak akan kecewa, tempat ini benar-benar indah dan tenang," janji Hans meyakinkan.

Berbekal air mineral

Terpukau dengan promosi Hans, saya dan teman dari Jerman, memutuskan ke Kanawa. Hans mengantar kami dengan mobil ke Labuanbajo, sekitar 20 menit dari bandara. Gratis.

Setiba di rumah makan di Labuanbajo, hujan deras turun. Sambil menunggu hujan reda, kami menikmati masakan ikan barakuda. Sayangnya, hujan baru berhenti pukul 14.00 lewat. Akibatnya, kami tertinggal kapal jemputan ke Kanawa yang biasa menjemput tamu pukul 12.00. Cara satu-satunya, menyewa sendiri kapal ke Kanawa dengan biaya Rp 60.000,-.

Kami berbekal air mineral botol cukup banyak, karena di Kanawa air minum mahal. Kapal bergerak meninggalkan Labuanbajo, kota nelayan di barat Flores. Perjalanan melalui laut sehabis hujan menyenangkan. Awan menyisih memberikan jalan bagi sinar matahari. Langit kelabu membuat pantulan air laut tidak menyilaukan mata. Pemandangan sekitar tampak jelas, menunjukkan betapa banyaknya gugus pulau di Kepulauan Komodo. Pulau-pulau kecil tandus itu berbentuk kerucut.

Setelah satu jam berayun-ayun di perairan Kepulauan Komodo, Kanawa mulai tampak di kejauhan. Bukitnya ditumbuhi perdu, rumah panggung kayunya berjajar rapi, demikian pula pohon-pohon rindang yang berbaris teratur. Di bawah lautnya yang jernih dan beralas terumbu karang kami mengintip ikan-ikan berkejaran.

"Stop!" sang kapten berteriak mengagetkan. Rupanya lambung kapal hampir mengenai terumbu karang. Memang, Pulau Kanawa dikeliling hamparan terumbu karang. Saat laut surut, tidak ada kapal dapat merapat di pantainya. Menjelang Pulau Kanawa, sekoci kecil datang menjemput. Sedangkan kapal kami, kembali berlayar ke Labuanbajo.


Kamar mandi tak beratap

Jalan menuju setiap bungalo dibatasi dengan barisan apik cangkang karang bercat putih. Pepohonan rindang meneduhi hamparan pasir putih. Satu-dua di antara batang pohon dipasang hammock untuk bermalas-malasan.

Bungalo itu berupa rumah panggung beralas papan. Hanya ada satu ruang untuk tidur seluas kurang lebih 4 x 4 m berdinding gedek dan beratap genting. Di dalam kamar disediakan sebuah dipan yang dilengkapi kelambu. Sebuah lampu pijar menempel di tembok dekat jendela yang menghadap pantai. Di balkon ada dua kursi yang catnya agak kusam, sebuah meja, serta tali jemuran. Sederhana tapi memadai untuk beristirahat. Terasa tenang, apalagi hanya tiga meter di depan balkon terhampar pantai pasir putih dengan laut biru sebening kaca.

Kamar mandi dan WC terletak di luar, di samping bangunan, sejajar dengan tanah dan tanpa atap. Namun, jangan takut diintip, karena kamar mandi dikelilingi tembok. Untuk mandi disediakan bak penampung air tawar yang dialirkan melalui keran, tapi untuk menyiram WC ada seember air laut. Tampak jelas imbauan menghemat air tawar terpampang di kamar mandi. Tidak heran, karena pengelola Kanawa harus membeli air tawar dari Labuanbajo untuk keperluan memasak dan mandi para tamu.

Menjelang senja, kami menunggu dengan penuh harap tergelincirnya matahari menuju peraduan malam. Sayangnya, awan mengalangi pandangan, memupus harapan itu.

Deru mesin genset mulai terdengar begitu malam datang. Genset memang satu-satunya sumber energi listrik di Kanawa. Untuk penerang, di Kanawa dipakai lampu petromaks yang akan sedikit menghangatkan setiap bungalo yang berpenghuni. Berbeda dengan Kanawa yang sepi kilauan lampu, di kejauhan pulau tetangga, P. Mesah, ramai dengan kelip pendar lampu.

Restoran menjadi tempat sosialisasi di malam hari. Beberapa turis asing asyik mengobrol, main kartu, ataupun minum-minum. Harga hidangan yang ditawarkan restoran bisa dibilang ekonomis. Mengingat sayuran dan bahan makanan harus dibeli di Labuanbajo, bahkan dipesan dari Bali. Seporsi cah kangkung Rp 10.000,- dan satu porsi kari ayam Rp 20.000,-.

Kegiatan malam berakhir, kala angin bertiup makin kencang. Sebagian besar tamu kembali ke penginapan masing-masing, menyisakan sunyi. Yang terdengar, tinggal gemerisik daun-daun diterpa angin.


"Akuarium" raksasa

Pagi hari, pemandangan sebelum matahari keluar dari persembunyiannya sungguh mengagumkan. Langit gelap perlahan-lahan beralih kemerahan, menjadi jingga, dan akhirnya terang-benderang. Air pasang semalam meninggalkan tumbuhan makroalga yang menggeletak di sepanjang garis pantai. Petugas bungalo mulai menyapu membersihkan sisa-sisa tumbuhan itu, sambil menyapa para tamu yang baru bangun.

Hanya bagian selatan pulau ini yang dihuni. Bagian utara, yang dipisahkan dengan bukit, adalah pantai dengan terumbu karang yang lebih luas. Nama Kanawa sendiri adalah nama pohon. Entah mengapa, pulau ini disebut demikian.

Haji Idris, pemilik bungalo asal Labuanbajo, membangun resor di Kanawa kira-kira sembilan tahun lalu. Saat tidak ada tamu, penghuni pulau seluas sekitar 3 km2M itu hanya tujuh orang, yakni para petugas resor.
Pukul 09.00 sinar matahari sudah menyengat. Inilah saat terbaik untuk snorkeling sebelum matahari makin tinggi. Setelah sarapan pancake dan teh hangat di restoran, kami mengambil fin (sepatu katak) dan masker, siap ber-snorkeling.

Di tepi pantai dengan mata telanjang sekalipun tampak jelas dasar laut yang berpasir putih serta kawanan ikan-ikan kecil yang berenang bebas. Saat ber-snorkel, rasanya seperti masuk akuarium raksasa.

Pertama kali muncul bintang laut berduri. Makhluk berwarna merah-kuning dengan diameter 20 cm itu bertebaran kira-kira 3 m dari garis pantai. Makin menjauhi pantai, kurang lebih 20 m, terbentang hamparan luas gugus terumbu karang dengan ratusan jenis ikan. Anemon laut, karang Arcopora, kepiting kecil, kerang, dan udang kecil hidup aman tak terusik. Kawanan ikan terumbu karang dengan warna-warni cerah mencolok mata berenang kian-kemari. Sementara kawanan yang lain asyik menyantap alga yang tumbuh di terumbu karang. Bila jeli, terlihat pula ular laut loreng merah hitam menyelinap di antara bebatuan. Pemandangan di "akuarium" raksasa itu memang membetahkan.

Namun, jangan pula berlama-lama di air, mengingat matahari bersinar sangat ganas pada tengah hari. Buktinya, begitu muncul di permukaan, kulit terasa panas. Tak terasa satu jam lebih berlalu untuk menyaksikan keindahan terumbu karang.

Kalaupun tak berminat terjun ke laut, kegiatan lain yang pantang dilewatkan adalah melihat budidaya mutiara, penangkaran hiu, red snapper, dan ikan napoleon di "rumah" Ayung, pengelola bungalo. Ikan-ikan itu dipisahkan satu sama lain dengan jala. Hiu yang ditangkar adalah hiu yang masih muda. Nantinya ikan-ikan itu diekspor ke Hong Kong. Yang dimaksud dengan rumah di sini adalah bangunan panggung di lepas pantai Kanawa, kurang lebih 10 m dari pantai. Di sana, di tengah laut itu, Ayung tinggal bersama keluarganya.


Berpetualang ala Robinson Crusoe

Bila bukan musim libur, menginap di Kanawa seperti menginap di pulau pribadi. Mau berenang, memancing, berjemur sepuasnya, atau bermalas-malasan seharian di bawah ayunan pohon, dijamin tidak akan ada yang mengganggu. Jangan harap hal itu terjadi di musim liburan, karena bungalo penuh tamu.

Letak Kanawa terasing dan jauh dari kebisingan. Hampir tidak ada perahu atau kapal melintasi Kanawa, kecuali kapal antar-jemput tamu. Yang lebih membuat terasing adalah sulitnya alat komunikasi. Radio panggil menjadi satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkan Kanawa dengan dunia luar. Dapat dibayangkan sunyinya kehidupan di Kanawa.

Saking sunyinya, di siang hari hanya terdengar kicau burung yang bertengger di bawah pohon kersen ataupun sayup-sayup suara percakapan atau canda petugas bungalo.

Meski suasana sangat santai, damai, dan tenang, jangan dikira Kanawa hanya untuk bermalas-malasan. Dunia petualangan ala Robinson Crusoe siap menantang.

Menurut Ayung, beberapa waktu lalu sepasang turis asal Inggris ingin berkemah di balik bukit. Mereka pun mendaki untuk mencapai dataran di balik bukit dan bermalam di sana di bawah tenda. Esok paginya mereka berenang untuk kembali ke bungalo. Kedengarannya mengasyikkan.

Merasa tertantang, dengan panduan Karim, petugas resor, kami pun mendaki bukit kecil di balik penginapan. Meski tinggi bukit tidak lebih dari 200 m, jangan lupa membawa persediaan air minum karena terik surya cepat mengundang haus. Butuh sedikit perjuangan untuk mendaki bukit yang padat ditumbuhi alang-alang tajam. Tapi, begitu tiba di atas, kepenatan terlupakan. Pemandangan Kanawa dan kepulauan sekitarnya sangat spektakuler.

Tampak jelas perairan warna air laut beralih dari biru muda menjadi biru tua, serta peralihan dari perairan dangkal ke dalam. Dari tempat ini pun kita dapat menikmati matahari terbenam. Nun jauh, terlihat lekuk-lekuk pulau-pulau yang mulai gelap tersapu awan.

Bagi pencinta hidangan laut, Kanawa bagai surga. Dengan memesan sebelumnya, makan malam dengan hidangan seperti cumi-cumi, ikan kakap, red snapper, lobster, ataupun kerang hasil tangkapan siang hari dapat dinikmati dengan harga lumayan murah. Misalkan, 1 kilogram lobster yang sudah diolah harganya Rp 75.000,-.

Memungut bintang laut kala surut

Kami beruntung dapat menikmati bulan purnama di Kanawa. Menjelang sore, saat laut surut. Terbentang daratan dadakan, yang biasanya terendam air laut, sampai kira-kira 10 m dari garis pantai. Namun, lebih dari itu banyak karang tajam mengadang. Bintang laut dan kepiting kecil berserakan di sana-sini. Sementara kapal yang tadinya mengapung di air, kini tampak terpaku kaku di daratan.

Masih saat bulan purnama yang berlangsung tiga malam berturut-turut. Selepas magrib nun di kejauhan tampak barisan lampu berkelap-kelip. Rupanya nelayan penduduk P. Mesah, yang berjarak sekitar 30 menit dengan perahu motor dari Kanawa, tengah menjalankan ritual menangkap ikan. Ritual itu mereka lakukan setiap purnama tiba. Sebuah pemandangan mengasyikkan dari jauh.

Di malam hari langit terasa begitu dekat. Udara bersih membuat kerlip bintang selatan memancar terang. Sepanjang zaman tak kenal bosan debur ombak pelahan menampar bibir pantai. Di Kanawa, sang waktu memang terasa panjang. Malam menunggu siang, siang menunggu malam. Kanawa, memang tempat tepat mencari tenang.


Suku Komodo, Sunyi di Tengah Ingar-Bingar

Secara fisik, masyarakat Suku Komodo memang berkulit lebih cerah ketimbang masyarakat Flores yang berkulit lebih gelap. Bahasa yang mereka gunakan pun berbeda, baik secara logat hingga perbendaharaan kata. Padahal, secara teritorial, mereka berada dalam satu daerah administrasi yang sama.

Di Desa Komodo, masyarakat Suku Komodo merupakan mayoritas, sedang sisanya adalah peranakan Bugis atau Bima. Penduduk di sini rata-rata berprofesi sebagai nelayan. Sebagian kecil bekerja sebagai pembuat dan penjual suvenir khas pulau Komodo. Ada pula beberapa anak muda yang bekerja di restoran di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Hal ihwal mengenai Suku Komodo yang memiliki populasi sekitar dua ribu orang memang luput dari perhatian masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Meskipun belakangan ada hajatan seperti “New 7 Wonders of Nature” yang memasukkan binatang purba komodo (varanus komodoensis) yang ada di sana sebagai nominator, nasib dan kehidupan komunitas tradisi yang mendiami kawasan tersebut jarang terbahaskan.

Asal usul nama Suku Komodo sendiri sebetulnya merujuk pada seorang perempuan. Syahdan, dalam sebuah cerita rakyat (folklore)suku Komodo, ada seorang putri dari dunia mistis yang tinggal di Pulau Komodo. Putri tersebut dipanggil dengan sebutan Putri Naga. Putri itu menikah dengan seorang manusia bernama Majo. Dari pasangan itu, lahirlah sepasang bayi kembar, lelaki dan perempuan.

Bayi lelaki yang berwujud manusia diberi nama Gerong, dan dibesarkan diantara manusia lain. Sedangkan bayi perempuan yang berbentuk komodo diberi nama Orah. Orah dilepaskan dan tumbuh besar di hutan. Tapi, kedua anak itu sama-sama tak tahu kalau mereka memiliki saudara.

Suasana pagi yang memikat.

Suatu hari, Gerong sedang berburu rusa di hutan. Ketika akan mengambil rusa buruannya, seekor kadal besar muncul dari semak-semak dan menyantap rusa hasil buruan Gerong. Gerong yang terkejut segera mengambil tombaknya dengan maksud membunuh kadal besar itu.

Tiba-tiba saja sang ibu muncul.

“Jangan membunuh binatang itu. Dia adalah Orah, saudara perempuanmu. Aku melahirkan kalian bersamaan. Anggaplah dia sebagai sesamamu, karena aku melahirkan kalian” kata sang Putri Naga.

Sejak saat itu, manusia Suku Komodo keturunan Gerong hidup rukun dengan para komodo keturunan Orah. Karena itu pula, para penjaga hutan di Taman Nasional Pulau Komodo adalah masyarakat Suku Komodo. Suku Komodo dipercaya bisa berkomunikasi dengan komodo

Saat ini, cerita rakyat mengenai asal usul Suku Komodo seperti menguap. Kisah-kisahnya seperti berada di titik nadir dalam ingatan masyarakat. Malam itu, di rumah Kasim, 45 tahun, salah seorang tetua Suku Komodo, kami, bersama Muchdar, memakan cumi bakar dan ikan bakar sembari membincangkan kebudayaan Suku Komodo.

“Sampai saat ini masih belum ada yang mendokumentasikan kebudayaan Suku Komodo” ujar Muchdar.

Menurut pria muda ini, kisah-kisah mengenai Suku Komodo sudah hampir punah. Jarang ada yang ingat dengan cerita asal usul tersebut. Untuk mengantisipasi kepunahan, ia pernah mencatat dengan tulisan tangan hampir seluruh cerita rakyat Suku Komodo. Sayangnya, catatan di buku tulis itu sudah hilang dan ia tak pernah menuliskannya lagi.

Generasi baru Suku Komodo.

Ancaman kepunahan kisah mengenai Suku Komodo juga dibenarkan oleh Kasim yang rumahnya menjadi tempat saya menginap selama berada di Pulau Komodo. Pria berkumis tebal bersuara berat yang tampak bijaksana ini mengatakan bahwa tak ada orang Indonesia yang pernah mendokumentasikan tentang kehidupan dan kebudayaan masyarakat Suku Komodo. Alih-alih orang Indonesia, yang melakukan pendokumentasian tersebut justru beberapa turis dari Amerika Serikat dan Jepang.

Nasib kebudayaan Suku Komodo yang dahulu bagian dari teritori Kerajaan Bima ini juga semakin terbayang ketika anak-anak kecil Suku Komodo sudah mulai jarang menggunakan bahasa ibunya. Mereka sekarang lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Belum lagi para remajanya yang bekerja di Labuan Bajo. Mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa Inggris untuk bercakap. Identitas yang berubah juga tampak dari beberapa remajanya yang menggunakan anting di telinga kiri, pakaian ala distro, celana ketat, rambut, rambut tegak di tengah, dan selera musik.

***

Untuk mencapai Pulau Komodo pada pertengahan 2010, dari Bima, Nusa Tenggara Barat, saya menumpang sebuah truk hingga ke Labuan Bajo. Labuan Bajo adalah sebuah kota pelabuhan di Flores yang sekilas Nampak seperti Marrakesh, yang juga sebuah kota pelabuhan di negeri Maroko. Di sini, saya bermalam di sebuah masjid.

Memilih pergi ke Pulau Komodo dengan cara yang murah meriah memang cukup mengasyikkan. Apalagi, untuk seorang pelancong seperti saya, paket-paket wisata yang ditawarkan harganya cukup mahal. Rata-rata, pihak travel itu mematok harga Rp. 400 ribu sampai Rp. 1 juta rupiah untuk perjalanan pulang pergi Labuan Bajo – Pulau Komodo. Sementara, untuk menyeberang dengan kapal milik penduduk, saya yang masih muda dan membawa barang-barang banyak dihitung sebagai pelajar dengan tarif Rp. 20 ribu. Kalau penumpang umum, tarifnya adalah Rp. 40 ribu.

Usai fajar subuh, sendiri saya berjalan ke pelabuhan. Di sana saya mencari kopi dan teman untuk mengobrol. Saya berkenalan dengan Om Gendut, seorang penjual mainan yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Dari info yang ia berikan, saya tahu bahwa setiap hari ada sebuah kapal milik penduduk Desa Komodo yang mengantarkan penduduk Desa Komodo ke Labuan Bajo. Biasanya kapal itu sudah merapat di Labuan Bajo pada pukul 8 WIT. Setelah itu, kapal akan kembali ke Desa Komodo pada pukul 12 WIT.

Senja di Desa Komodo.

Waktu tempuh Labuan Bajo – Pulau Komodo adalah sekitar empat jam. Selama perjalanan, kegiatan yang paling mengasyikkan tentu saja mengobrol dengan penduduk Desa Komodo. Mereka ramah dan suka bercerita. Di sinilah saya bertemu dengan Kasim yang menawari saya menginap di rumahnya.

Menjelang petang, perahu yang saya tumpangi merapat ke dermaga Desa Komodo. Saya melihat, Desa Komodo hampir mirip dengan desa nelayan yang pernah saya kunjungi. Tak jauh beda dengan, katakanlah, kampung nelayan di Pulau Derawan, Kalimantan Timur, atau di Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat.

Anak-anak Desa Komodo yang tampaknya tak biasa melihat turis langsung mengerubungi saya dan minta dipotret. Saya merasa betapa lucu dan polosnya mereka. Mungkin mereka jarang melihat ada orang asing memasuki kawasan mereka. Sebab, para wisatawan yang mulai membanjiri Pulau Komodo sejak dinominasikan sebagai salah satu “New 7 Wonders of Nature” lebih banyak tinggal di resort atau menginap di kapal yang lepas sauh di tengah laut. Dan setelah menghabiskan beberapa menit untuk sesi foto, saya langsung menuju rumah Kasim.

Di rumah Kasim, saya mendapatkan satu kamar kosong dengan dua buah kasur. Rumahnya berbentuk rumah panggung bertingkat dua dengan kayu sebagai bahan utama. Lantai bawah digunakan sebagai ruang bersantai dan ruang makan. Sementara, ruang atas adalah ruang tamu dan kamar – yang saya tempati.

Suasana Desa komodo yang tenang.

Bentuk rumah Kasim memang menjadi tipikal di Pulau Komodo. Di sini, hampir semua rumahnya bertingkat dengan pola rumah panggung khas Bugis dan atap yang bersilang khas Bima. Namun demikian, bangunan rumah ini bukan sekedar bangunan. Ada filosofi yang terkandung di dalamnya, yakni Sabalong Samalewa, yang artinya adalah sama tinggi sama rata. Sebagaimana model rumah-rumah panggung yang tersebar di seantero Indonesia, rumah panggung Suku Komodo berfungsi untuk menghindari kemungkinan masuknya komodo ke dalam rumah.

Di sini, parabola menjadi pemandangan yang lumrah di rumah-rumah penduduk. Sebab, tanpa teknologi itu, memang tak ada siaran televisi yang bisa tertangkap. Meski demikian, setiap hari listrik baru menyala dari generator setelah pukul 18 WIT.

Berpetualang ke Pulau Komodo menjadi pengalaman yang mengesankan buat saya. Tak hanya keindahan alam atau binatang purbanya yang menarik perhatian, tetapi juga kebudayaan dari suku yang absen dalam kebisingan tentang pulau milik mereka sendiri.

Short URL: http://www.lenteratimur.com/?p=4145