welcome

We kindly serve you, find your identity in Indonesia

history

Indonesia has strong historical roots, has a priceless masterpiece

Floating market

The uniqueness is a part of Indonesian life

metropolitan

Indonesia has a magnificent way of life

culinary

have a high culinary taste since antiquity

pray

the source of all sources of life is god

Romantic

the source of all sources of life is god

Jumat, 01 Juni 2012

Desa Wisata Indonesia

Tak bisa kita pungkiri bila sektor pariwisata menjadi salah satu potensi daerah yang banyak dikembangkan masyarakat Indonesia. Melimpahnya kekayaan alam Indonesia dan uniknya budaya lokal yang kita miliki, memberikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik maupun turis mancanegara. Sehingga tidak heran bila sampai hari ini sektor pariwisata Indonesia menjadi salah satu penyumbang dana yang cukup besar bagi Pendapatan Daerah di seluruh penjuru nusantara.
Memanfaatkan potensi alam yang cukup melimpah, masyarakat di berbagai daerah Indonesia kini mulai mengoptimalkan sektor pariwisata dengan membangun kawasan desa wisata. Strategi ini sengaja dibangun masyarakat untuk mengajak para wisatawan lokal maupun internasional untuk mengenal lebih dekat kekayaan alam, budaya, maupun tradisi masyarakat di berbagai pelosok desa. Melalui program desa wisata, diharapkan masyarakat bisa memperkenalkan tradisi dan budaya lokal kepada masyarakat luas serta mengangkat perekonomian masyarakat di sekitar desa tersebut.
Beragam program dan paket wisata pun kini mulai ditawarkan masyarakat pedesaan untuk menjamu para wisatawan lokal maupun internasional. Misalnya saja seperti puluhan desa wisata yang terdapat di Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali dan lain sebagainya.
Nah, untuk mengenal lebih dekat potensi desa wisata Indonesia, berikut adalah beberapa wilayah di nusantara yang memiliki potensi  cukup potensial.
Desa Wisata di Yogyakarta
Sebagai kota budaya, Yogyakarta tentunya menjadi salah satu kota tujuan wisata yang ramai dikunjungi para pelancong. Selain kawasan Malioboro yang menjadi tujuan belanja bagi para wisatawan, Yogyakarta ternyata memiliki kawasan desa wisata yang cukup potensial.
Misalnya saja seperti puluhan desa wisata di daerah Turi yang memanjakan para wisatawannya dengan potensi salak pondoh yang berlimpah dan menyuguhkan pesona alam pedesaan yang masih sangat asri, atau bisa juga mengunjungi desa wisata kerajinan seperti di daerah Kasongan (sentra kerajinan gerabah), Krebet (sentra kerajinan batik kayu) serta Manding (sentra kerajinan kulit), sampai dengan desa wisata budaya yang belakangan ini mulai diminati wisatawan mancanegara seperti desa wisata Tembi maupun jelajah kampung budaya di gang sempit Dipowinatan,Yogyakarta.
Keunikan budaya Jawa yang masih sangat terasa dan keasrian panorama alam yang dimiliki kota Yogyakarta, mendorong masyarakat di berbagai sudut kota Jogja untuk memanfaatkan potensi tersebut untuk meningkatkan perekonomian desa setempat.
kampung wisata 200x124 Potensi Desa Wisata Indonesia
Desa Wisata di Jawa Tengah
Selain Kota Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah ternyata juga memiliki potensi desa wisata yang beragam. Mulai dari kampung wisata Candirejo yang mengajak para wisatawan untuk mengenal lebih dekat kehidupan sehari-hari masyarakat desa setempat, kawasan Dieng yang memanjakan wisatawan dengan pesona alamnya yang menawan dan potensi agrobisnis yang cukup berlimpah; desa wisata Duwet Klaten yang menyajikan budaya tradisional Jawa dan aneka macam kerajinan; Karangbanjar, Purbalingga yang menyajikan pemandangan desa yang masih alami; Karimunjawa dengan daya tariknya pesona taman bawah laut, serta masih banyak lagi desa wisata lainnya seperti daerah Ketenger, Selo, serta kampung batik di Desa Laweyan Solo, Jawa Tengah.
Desa Wisata Jawa Barat
Dikelilingi daerah pegunungan, menjadikan Daerah Jawa Barat memiliki panorama alam yang sangat menawan dan tingkat kesuburan tanah yang cukup tinggi. Melihat potensi tersebut, tidaklah heran bila daerah yang memiliki suhu udara cukup sejuk ini memiliki potensi desa wisata cukup beragam.
Sebut saja seperti kawasan agro Ciwidey yang menawarkan beberapa potensi desa wisata kebun strawberi dan aneka olahannya, Desa Wisata Lembur Kahuripan yang memiliki pemandangan sawah dan pemandangan bukit nan hijau, atau mengunjungi Kampung Wisata Industri Cikaret untuk menikmati wisata usaha rumahan seperti industri sandal, tahu, tempe, wayang golek, serta souvenir daur ulang limbah.
Desa Wisata Bali
Tidak hanya Pulau Jawa saja yang memiliki potensi budaya begitu beragam dan pemandangan alam yang cukup menawan. Pulau Bali yang dikenal masyarakat dunia sebagai surga kecil di negara Indonesia, ternyata juga memiliki potensi desa wisata yang sangat menarik, mulai dari aktivitas camping, tracking, refreshing, hingga memperdalam budaya dan tradisi Bali, bisa Anda dapatkan di Desa Wisata Ambengan, Provinsi Bali.
Kondisi alamnya yang dikelilingi persawahan dengan sistem terasering (sengkedan) dan didukung dengan empat air terjun serta beberapa kolam alami, membuat pemandangan Desa Wisata Ambengan semakin mempesona para wisatawan. Hal inilah yang menjadikan Desa Wisata Ambengan di Kabupaten Buleleng Bali ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.
Melihat kesadaran masyarakat desa yang mulai tergerak untuk mengembangkan segala potensi yang terdapat di daerahnya, tidak menutup kemungkinan bila di masa-masa yang akan datang keadaan ekonomi di daerah pedesaan akan setara dengan pergerakan ekonomi di kota-kota besar. Semoga informasi potensi bisnis daerah ini bisa memberikan tambahan wawasan bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia untuk mengoptimalkan potensi di sekitarnya. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.
Sumber gambar :
1. http://www.kabarhotel.com/wp-content/uploads/2012/03/desa-wisata.jpg
2. http://sewasepedajogja.com/wp-content/uploads/2011/12/Wisata-Pedesan-di-Jogja-dengan-bersepeda.jpg

Gandrung tarian khas Banywangi

Wisatanesia.com-Gandrung Banyuwangi adalah salah satu jenis tarian yang berasal dari Banyuwangi Kata ""Gandrung"" diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat Tarian Gandrung Banyuwangi dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).

Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali.Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan "paju"
Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.

Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).
Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan.

Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.
Menurut sejumlah sumber, kelahiran Gandrung ditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker. Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah.

Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.
Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya.

Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20..Wisata Indonesia Surga Dunia
sumber :http://www.wisatanesia.com/2010/09/gandrung.html

Senin, 02 April 2012

Pasar Apung Yang Mempesona

Indonesia merupakan negeri yang sangat kaya. Tidak hanya kaya akan hasil bumi tetapi Indonesia juga kaya akan pesona alam yang luar biasa. Memanfaatkan anugerah Allah SWT tersebut pemerintah menggerakkan sektor pariwisata dengan memprogramkan “Visit Indonesia Year”. Agenda ini terus dilaksanakan setiap tahun di seluruh Indonesia demi memperkenalkan pesona alam Indonesia kepada dunia di samping untuk menambah devisa negara.

Kalimantan Selatan pun memiliki pesona alam yang tidak kalah luar biasa. Banjarmasin yang mendapatkan julukan sebagai “Kota Seribu Sungai” merupakan salah satu aset pariwisata bagi Indonesia. Oleh sebab itu, sebagai salah satu bentuk dukungan atas program pemerintah terutama pemerintah daerah dalam “Visit Kalimantan Selatan 2011” kami dari Kelompok Studi Ekonomi Islam - Forum Studi Qur'an(KSEI-FSQ) Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat menyelenggarakan kegiatan Wisata Budaya dengan tema “Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup untuk Masa Depan Lebih Baik” yang merupakan rangkaian kegiatan dari Temu Ilmiah Nasional X 2011 dalam upaya memperkenalkan pesona alam dan budaya Banjarmasin.

Namun bukan hanya itu saja, dalam kesempatan ini dengan menggunakan alat transportasi tradisional sebenarnya para peserta TEMILNAS X FoSSEI 2011 akan dibawa untuk berkontemplasi dengan keadaan masyarakat dan alam yang mayoritas masih tergolong miskin, jauh dari kesejahteraan dan lingkungan yang rentan akan kerusakan.

Deskripsi Kegiatan : Dengan mengambil slogan “Visit Kalimantan Selatan 2011”, maka pada agenda ini peserta mengadakan wisata budaya Kalimantan Selatan mulai dari pasar terapung sambil meyusuri eksotisme aliran Sungai Martapura hingga ke Museum WASAKA Banjarmasin.

Tema: “Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup untuk Masa Depan Lebih Baik”

Sasaran Peserta: Seluruh mahasiswa delegasi dari setiap kampus.

Hari dan Tanggal Pelaksanaan: Minggu, 13 Maret 2011

Waktu: 05.00-08.30 WITA

Tempat: Wisata budaya Pasar Terapung, Pulau Kembang, Bantaran Sungai Barito, Museum Wasaka.

Keraton Surakarta : Perpaduan Kemegahan Eropa dan Keunikan Jawa.



Keraton Surakarta (Solo) atau disebut sebagai Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan keraton dengan gaya dan arsitektur yang sangat unik. Keraton ini tertelak di kota Surakarta biasa disebut dengan nama Solo yang berada di Propinsi Jawa Tengah. Keraton Solo merupakan perpaduan yang khas antara gaya eropa dan etnik Jawa dalam setiap sudut dan tata ruang Keraton. Secara sejarah Keraton Solo di bangun oleh Pakubuwono II sekitar tahun 1744. Berbicara tentang Keraton, tak lepas dari sejarah kerajaan-kerajaan islam yang penah berjaya di tanah jawa. Ketika Kerajaan Islam Pajang mulai memperlihatkan titik surut, maka mulailah berdiri kerajaan mataram yang didirikan oleh Sultan Ageng Hanyokrokusumo. Dalam beberapa dekade, kerajaan ini sangat kuat dan jaya, namun akhir kerajaan Mataram Islam tidaklah semanis masa jayanya.

Kerajaan Mataram Islam harus terpecah menjadi dua bagian barat dan timur pada tahun 1755 dengan sebuah perjanjian yang disebut perjanjian Giyanti. Dalam kesepakatan tersebut membagi Mataram Islam menjadi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berada di sebelah barat kali Opak Prambanan dan Keraton Surakarta Hadiningrat yang berada di sebelah timurnya. Untuk sisi sebelah barat telah dikupas ditulisan sebelumnya dan sekarang lebih mengenal tentang Keraton Solo yang merupakan perpaduan antara kemegahan Eropa dan Keunikan etnik Jawa yang mempesona.

Keraton Surakarta atau Solo terletak di selatan Jawa Tengah, Berada di koordinat 7° 34′ 0″ LS, 110° 49′ 0″ BT. Surakarta sendiri berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan. Apabila Petualang hendak menuju ke Keraton Solo ini, sangat mudah terjangkau dari berbagai penjuru. Bisa dari sisi barat dimulai dari JogjakartaKlaten – Kartosuro (Pertigaan Tugu ke kanan) – Silakan lurus menuju Patung Slamet Riyadi (Beteng Vasdenburg ke kanan) – Alun alaun – Keraton. Apabila dari Semarang bisa melalui rute UngaranBawen – Salatiga – Boyolali – Kartosuro (Pertigaan Tugu lurus) – Patung Slamet Riyadi – Keraton.

Perjalanan dari Jogjakarta hanya sekitar 1.5jam dengan track normal, atau dari Semarang hanya sekitar 2 jam dengan kondisi lalu lintas yang tidak macet. Setelah melewati patung Slamet Riyadi, Petualang akan menuju ke arah alun-alun dengan jalanan yang sangat sejuk karena jalanan ditumbuhi oleh pohon beringin yang sangat besar. Untuk alun-alun sendiri memang tidak bisa masuk bebas leluasa seperti alun-alun yang ada di keraton Jogja, karena alun-alun solo tersebut diberi pagar melingkar disemua sisinya. Namun petualang bisa masuk dari beberapa pagar yang ada di empat sisi alun-alunnya.

Setelah melewati alun-alun silakan untuk menuju istana yang sangat megah, Petualang disarankan untuk pelan berkendara karena pintu gerbang Keraton Solo ini memang agak tidak mudah ditemukan. Petualang silakan menuju pintu gerbang utara (Kori Wijil) karena gerbang inilah yang memang disediakan untuk pengunjung yang hendak memasuki Keraton Surakarta. Pemandangan pertama kali yang akan ditemui oleh Petualang adalah bagunan pintu gerbang yang berwarna biru (Kori Brajanala atau Kori Gapit) dan menara tinggi yang sangat unik (Panggung Sangga Buwana). Petualang bisa membeli tiket didepan pintu tersebut dan parkir disekitar area didepannya. Atau berbelok ke kiri mengikuti jalan sekitar 100 meter lalu berbelok ke kanan, maka akan Petualang temukan pintu masuk yang lain.

Apabila membeli tiket dari pintu gerbang utara memang bisa mengabadikan beberapa landscape yang sangat terkenal tersebut, yaitu pintu berwarna biru (Kori Kamandungan) dan menara yang berdiri megah. Apabila dari pintu yang satunya, maka akan didapati pemandangan yang serba biru di dinding namun hijau lumut dilantainya. Untuk harga tiket masuk Keraton Surakarta atau Solo cukup terjangkau, hanya sekitar Rp. 10.000,- untuk Petualang umum. Bagi Petualang yang ikut rombongan atau pelajar sekolah, harga tiket bisa lebih murah. Namun bila Petualang merupakan foreigner tiket masuk Keraton Surakarta hanya Rp. 12.500,-. Itu belum termasuk biaya parkir sebesar Rp. 2.000,-. Apabila Petualang membawa Kamera, maka ditambah biaya sebesar Rp. 3.500,-. Hmm, cukup terjangkau dan murah bukan?

Beberapa buah tangan juga disediakan oleh Keraton sebagai kenangan kalau pernah berkunjung ke Keraton Surakarta. Letaknya persis didepan pembelian tiket digerbang sebelah timur.

Petualang akan memasuki dua tempat di Keraton Surakarta, bagunan tersbut bernama Bangsal Smarakatha disebelah barat dan Bangsal Marcukundha di sebelah timur. Bagunan ini sangat unik dan menyimpan berbagai hasil kebudayaan orang jawa dimasa dulu. Petualang bisa menuju ke taman yang berada disebelah belakang pintu masuk. Tips : Silakan Petualang memakai sepatu, karena pihak Keraton Solo tidak memperbolehkan Petualang berjalan di area taman dengan memakai sandal, topi, kacamata dan celana pendek. Bagaimana jika tidak memakai sepatu? Nah, silakan Petualang untuk berjalan tanpa alas kaki (nyeker) dengan menitipkan sepatu ke Abdi Dalem Keraton. Keraton Solo juga menyediakan kain batik jarik apabila Petualang memakai celana pendek.

Didalam taman ini terdapat bangunan seperti kedhaton yang panjang juga unik, dengan bebatuan marmer yang sangat megah. Dibuat memanjang dihiasi dengan ornamen ala jawa di pilar penyangganya dan atap bangunan yang mengkerucut mirip seperti rumah joglo jawa tengah. Tanah di taman ini bukan tanah pada umumnya, namun merupakan pasir yang berasal dari pantai laut selatan. Jadi, Petualang yang berjalan tanpa alas kakipun nyaman ketika memutari seluruh area taman. Selain lantai yang berpasir, taman ini juga terdapat tanaman sawo kecik yang tertata rapi berjajar berjumlah 76 pohon. Didepan kedhaton panjang tersebut terdapat bangunan pendopo yang megah dan mewah. Pendopo yang bernama Sasana Sewaka tersebut dihiasi berbagai macam patung dengan gaya yunani atau eropa kuno. Patung bergaya eropa tersebut tepat berada didepan pendopo yang berjumlah lebih dari 6 buah. Memang sangat unik, keraton dengan gaya arsitektur etnik jawa dengan beberapa hiasan patung model eropa.

Setelah menilik taman yang nyaman dan sejuk, Petualang bisa melanjutkan ke bangunan sebelahnya dekat dengan pintu masuk. Didalam bangunan tersebut terdapat beberapa karya dan budaya warisan kerajaan jaman dulu. Mulai dari era hindu-budha hingga kerajaan Islam. Hampir mirip dengan Keraton Jogja yang menyimpan berbagai pusaka dan hasil budaya Jawa. Terdapat juga sisilah dinasti Mataram dari Ki Ageng Pemahanan hingga Pakubuwana IX. Beberapa artefak dan patung peninggalan kerajaan jamam dulu juga terdapat dibangunan tersebut, seperti batu candi, patung dewa, dan peninggalan yang laain.

Beberapa warisan budaya seperti gong beri, aneka dolanan jawa, patung raja duduk di singasana, berbagai macam andong (dokar / delman) yang menjadi alat transportasi raja jaman dulu kala. Juga beberapa sample peralatan yang digunakan oleh orang-orang jawa seperti gejog lesung, bokor tempat menanak nasi yang berukuran besar. Kalau di Keraton Jogja ada lukisan yang unik dan mistis, maka di solopun juga terdapat lukisan tersebut. Ketika Petualang melihat bagian lukisan tersebut, seolah-olah bagian dari gambar lukisan tersebut mengikuti ke arah kemana Petualang melihatnya. Karya yang luar biasa.

Diluar bagunan juga terdapat kayu jati wungu yang merupakan potongan kayu peninggalan sunan, jati ini hampir mirip dengan jati yang terdapat di Masjid Agung Demak atau Masjid Sekayu yang ada di kota Semarang. Selain itu, terdapat sumur tua yang airnya sangat jernih, beberapa Petualang memanfaatkan untuk berwudhu dan memcuci muka. Silakan untuk minta air tersebut kepada abdi dalem keraton solo, dengan memberi infak sekedarnya. Mirip di Keraton Jogja dimana ketika Petualang masuk ke area batik di keraton Jogja, maka akan ditemui sebuah sumur tua yang digunakan untuk perawatan kuda, namun tidak bisa merasakan segarnya sumur tua tersebut. Keraton Surakarta memang menyimpan keunikan tersendiri. Walaupun hanya sekilas dan kecil, namun mengagumkan untuk datang dan melihat perpaduan yang unik dari dua budaya yang berbeda.

Surakarta masuk Nominasi New 7 Wonders City

Keraton Solo (Foto: sarwantopuguh/flickr)
Keraton Solo (Foto: sarwantopuguh/flickr)
WALI Kota Solo, Jawa Tengah, Joko Widodo (Jokowi) optimis Kota Surakarta akan menjadi salah satu nominasi New7 Wonders Cities area South East Asia and Oceania.

Untuk itu, Jokowi siap turun tangan mengkampanyekan Kota Solo secara total agar harapan tersebut bisa terwujud. "Kita akan kampanye melalui media-media sosial, seperti Kaskus, Twitter, Blog, dan Facebook agar bisa vote Surakarta," jelasnya kepada okezone di Solo, Jawa Tengah, Rabu (28/3/2012).

Menurut Jokowi, dengan keunikan dan keistimewaan yang dimiliki, mulai dari Keraton, banyaknya bangunan bersejarah, budaya seperti wayang dan bahasa, Kota Solo sangat ideal masuk nominasi nominasi New7 Wonders.

"Step-step-nya semua sudah kita lakukan. Semua ini kita lakukan agar mampu mempromosikan Kota Surakarta atau Solo, " tegasnya.

Selain Kota Surakarta, kota lainnya yang masuk New 7Wonders Cities South East Asia and Oceania adalah Jakarta. Posisi Kota Solo ada pada urutan 11, di bawah Kota Jakarta yang berhasil masuk dalam 10 besar nominasi New 7Wonders Cities South East Asia and Oceania.

Seperti dilansir dari laman New7Wonders, tujuh kota yang menempati urutan teratas berada di Filipina, di antaranya Cebu City, Vigan, Davao City, Iloilo City, Cagayan de Oro, Bacolod City, dan ParaƱaque City sedangkan Sydney, Australia, menempati posisi delapan dan Singapura berada di posisi sembilan. Di posisi 12, atau di bawah Surakarta adalah Bangkok, Thailand.

Pemungutan suara untuk New7 Wonders Cities area South East Asia and Oceania dimulai sejak 7 Desember 2011 dan akan berakhir pada fase pengumuman, 7 Desember 2013.