welcome

We kindly serve you, find your identity in Indonesia

Minggu, 12 September 2010

tradisi mudik lebaran di indonesia

Lebaran adalah saat solidaritas sosial diperkuat dengan cara yang lebih terorganisir, sehingga setiap lebaran tiba ada sejumlah umat miskin yang tersejahterakan, tidak saja untuk satu atau dua hari, tapi sampai ke anak cucu” Momentum lebaran tentu saja menghadirkan suasana haru dan khidmat bagi umat Muslim di seluruh dunia. Khususnya di Indonesia, menjelang Lebaran banyak kita saksikan maraknya masyarakat mempersiapkan tradisi mudik, yakni proses pulang kampung dan atau kembali ke kampung halaman. Pada awalnya mudik merupakan istilah yang digunakan oleh orang-orang Jawa, yang kemudian menjadi populer ditelinga masyarakat Indonesia. Diduga istilah ini berasal dari kata "udik" yang berarti arah hulu sungai, pegunungan, atau kampung/desa. Orang yang pulang ke kampung disebut "me-udik", yang kemudian dipersingkat menjadi mudik. Jadi pada esensinya, pengertian kata mudik itu adalah (orang-orang yang tinggal di kota) yang berlayar ke hulu sungai, pulang ke kampung.

Mudik sekarang ini, menjadi satu fenomena sosial keagamaan yang menarik untuk diperbincangkan, karena telah menjadi tradisi yang fenomenal di lingkungan umat Islam Indonesia, terutama pada hari-hari lebaran. Perbincangan terhadap fenomena ini menjadi penting karena nuansa yang terkandung di dalamnya yang dapat dianalisis dari berbagai pendekatan; baik teologis, sosiologis, maupun ekonomis.

Lebaran, Tradisi Umat Islam Indonesia

Di Indonesia, istilah lebaran lebih populer dari Hari Raya Idul Fitri begitupun makna dan tradisinya. Selain takbiran dan shalat 'id, dalam lebaran ada tradisi halal bi halal, nyadran (ziarah ke kubur), dan mudik. Karena dalam lebaran telah terjadi pergeseran makna, maka waktunya juga tidak hanya pada 1 dan 2 Syawal saja, tetapi sepanjang bulan, bahkan bisa berlangsung sampai bulan berikutnya. Dalam waktu yang relatif panjang itulah umat Islam di Indonesia berlebaran; berhalal bi halal atau bersilaturrahim ke tetangga, sanak famili, dan handai taulan sambil bermaaf-maafan, serta melaksanakan ziarah kubur terhadap anggota keluarga yang sudah lebih dahulu menghadap Allah swt. Orang-orang kota yang berasal dari udik (desa), tentu saja merasa tidak afdal jika kegiatan halal bi halal dan nyadran itu hanya dilakukan di kota, karena sebagian besar sanak-keluarga dan makam leluhurnya ada di udik. Untuk itu mudik menjadi satu keharusan dan menjadi bagian dari tradisi lebaran di negeri ini. Suatu tradisi yang cukup unik, dan sudah menjadi bagian dari hari raya umat Muslim Indonesia.

Mudik, Sebuah Kajian Teologis

Banyak alasan, mengapa orang mudik lebaran. Namun, yang sering kita dengar, alasan orang yang mudik adalah untuk berhalal bi halal dan nyadran di kampung halaman. Dari perspektif teologis, jelas bahwa kedua tradisi ini memiliki dasar doktrinal yang jelas dalam Islam. Halal bi halal dalam arti bersilaturrahim untuk saling meminta atau memberi maaf adalah bagian dari akhlak Islam yang berkaitan dengan dua kebaikan sekaligus; (1) ia menjadi satu upaya untuk mengeliminir dosa-dosa antara sesama manusia; dan (2) ia juga menjadi media untuk memperkuat tali persaudaraan antara sesama muslim.

Demikian juga kegiatan ziarah kubur, yang pada dasarnya adalah suatu kegiatan keagamaan yang menurut Hadist Rasul, dapat mengingatkan orang pada kematian dan itu cukup penting agar mereka mempersiapkan bekal menuju kematian itu. Terlebih lagi bagi orang yang sedang bersuka ria dalam berlebaran, menjadi sangat layak ketika mereka ikut berziarah ke kuburan, agar tidak lalai dari mengingat Allah swt. Namun, pertanyaannya apakah hanya di saat mudik lebaran saja, kita saling memaafkan dan berziarah? Tentu jawaban tersebut sangatlah relatif. Yang terpenting, bagaimana kita memaknai dan memahami mudik sebagai sarana untuk beribadah, mendekatkan diri pada sang pencipta alam raya Allah Azza Wa Jalla.

Mudik, Suatu Kajian Sosiologis

Begitu maraknya tradisi mudik lebaran, tak heran jika tradisi tersebut menjadi sangat fenomenal di negeri ini. Alasannya, mungkin salah satunya terkait dengan politik pembangunan. Selama ini kota menjadi lumbung duit yang cukup menggiurkan, sebaliknya desa-desa dibiarkan miskin. Akibatnya, arus urbanisasi mengalir deras, dan wajar jika kaum urban inilah yang kemudian ramai-ramai mudik lebaran. Mereka menjadikan hari lebaran sebagai musim mudik.

Dengan mudik, orang yang sudah kehilangan jati dirinya di tengah kota ingin ia temukan kembali dengan cara menghirup kembali udara desa sambil mengenang masa lalunya di sana. Mudik bisa menjadi moment bersayap, berpulang untuk berbagi dalam bingkai silaturrahim. Bersilaturrahim dalam konteks ini dapat mencapai kepuasan oase dari keterasingan dan tingginya nilai individual masyarakat perkotaan. Jika di kota ia hanya menjadi ibarat sebuah skrup dari mesin besar, maka di kampung ia dihargai sebagai manusia. Jika di kota ia diberi label sebagai buruh, karyawan, atau lainnya, maka di desa ia dipanggil sebagai anak, abang, adik, atau ipar. Jika di kota ia sering dihadapkan dengan wajah yang garang, suara gertakan, dan mungkin ancaman, maka di desa ia menemukan kedamaian, ketenangan, dan keramahtamahan. Pendek kata, para urban akan memperoleh arti kemanusiaan dan status sosial di desa melebihi yang didapatnya di kota.

Sebaliknya, fenomena mudik sering dijadikan sebagai media untuk menunjukkan sukses di kota. Status sosial yang diperoleh perlu diketahui oleh sanak-keluarga. Maka mereka pun ikut mudik dengan kendaraan sendiri. Anehnya, ternyata tarikan sosiologis serupa sangat kuat, sebab tidak sedikit orang kota yang mudik sambil “bersandiwara”. Mereka datang dengan mobil pribadi, walaupun harus menyewa dari rental. Inilah fenomena mudik, menjadi tidak sekedar beridul fitri, tetapi juga menjadi ajang pamer keberhasilan, yang pada gilirannya memicu arus urbanisasi terus mengalir deras.

Idul fitri yang bernilai sakral menjadi lebih profan (tidak sakral lagi) di tengah umat kita. Orang pun tak begitu mengenal apa itu hakikat dan makna Idul Fitri, tetapi mereka akrab dan familiar dengan istilah halal bi halal, ziarah kubur, dan mudik.

Lebaran adalah saat solidaritas sosial diperkuat dengan cara yang lebih terorganisir, sehingga setiap lebaran tiba ada sejumlah umat miskin yang tersejahterakan, tidak saja untuk satu atau dua hari, tapi sampai ke anak cucu. Mudik tidak sekedar pamer sukses, tetapi mudik yang mensejahterakan. Inilah teologi silaturrahmi yang perlu dihayati sekaligus diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Amin. (Ans)

Sumber:
syarul.salam@yahoo.co.idThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it www.inilah.com/.../antara-tradisi-mudik-dan-kenabian/
ini-ano.blogspot.com/.../tradisi-mudik-lebaran-ditinjau-dari.html

0 komentar:

Posting Komentar